Sabtu, 17 Agustus 2013

Corat-Coret Novel : "Si Tomboy Tetap Seorang Perempuan" (Part 1)

Part 1. Si Tomboy Menyukaiku

Menawannya lukisan langit malam ini. Kabut-kabut malam terlihat begitu mempesona di atas sana. Tampak sosok si pemburu di langit Timur. Betelguese dan rigel terpampang terang menjadi peran utama dalam kostelasi Orion. Di sebelah kanan orion terdapat Lepus si kelinci. Sungguh indah karya Sang Pencipta. It’s so wonderful. Damainya malam ini lebih terasa dengan ditemani sepoi dingin angin malam.

Sembari menunggu kedatangan Kak Ron, aku duduk di teras rumah sambil menompangkan dagu pada lutut yang kurangkul dengan kedua lenganku.
Huft…mana, sih Kak Ron? Udah jam 9 gini belum pulang juga…” Aku sedikit khawatir.
Kuraih secangkir teh hangat yang sedari tadi tergeletak di samping kananku. Kutiup perlahan agar tidak terlalu panas. Dan kemudian kuayunkan ke bibirku dan mengalir nyaman melewati lidah.
Sssrrrttt… ssrrrttt… Begitulah bunyinya... Kakinya bertanduk, hewan apa namanya? (Bukan, bukan yang itu). Nikmatnya mengalir melewati kerongkonganku. Hm… aku memang suka sekali menikmati teh hangat. Karna selain nikmat, teh juga memiliki banyak manfaat. Apa saja?? Cek aja diinternet juga banyak. (Omaigotttt… =_=)
Kembali aku menatap layar ponselku guna mencari tahu waktu saat ini. Sudah lebih 30 menit dari yang sebelumnya aku lihat.
Lama banget… Aku kembali menggumam. Aku mulai jenuh dan mulai merasa ngantuk.
Aku hanya tinggal berdua dengan Kak Ron di rumah sederhana ini. Tidak ada ayah dan tidak ada ibu. Sangat sepi sekali. Kualihkan kembali pandanganku ke langit. Mencoba mengingat wajah mereka berdua tujuh tahun yang lalu sebelum meninggalkan kami.
Tiba-tiba pekikan seorang laki-laki 45 tahunan berkemeja agak usang membuyarkan lamunanku.
 “Sudah berapa kali ayah bilang, jangan pernah mabuk-mabukan lagi!! Kamu ini anak perempuan macam apa!!?” Pekiknya menyabut kedatangan anak gadis semata wayangnya yang baru pulang.
Hm… Sebenarnya kegiatan seperti itu sudah lumayan rutin tiap malam, jadi aku sudah tidak heran lagi.
Dia adalah Om Rudi, tetangga kami. Dia memang tidak terlalu kaya, tapi dia dulu yang mengurusi serta membiayai hidupku dan Kak Ron ketika kami kecil, sejak dua manusia yang menciptakan kami itu bercerai dan meninggalkan kami. Dia sangat baik terhadap kami. Kami pun menganggapnya sebagai paman kami sendiri. Dia sangat sepenuh hati menggantikan figur orang tua bagi kami sampai kami bisa membiayai hidup sendiri.
Kak Ron sudah bekerja di sebuah perusahaan permen ‘Candy Company’, dua tahun terakhir ini, setelah sebelumnya hanya sebagai kurir shift malam di minimarket dekat kampus. Memang di perusahaan itu dia hanya seorang karyawan biasa dan gajinya pun tidak terlalu besar, dan aku pun hanya bisa membantu dengan menjual buku yang belum tentu penghasilannya, tapi cukuplah untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan juga untuk biaya kuliahku. Sedangkan biaya kuliah Kak Ron, tidak perlu dikhawatirkan lagi. Kak Ron selalu mendapatkan beasiswa setiap semesternya. Jadi, agak sedikit lebih ringan. Lumayan, gaji Kak Ron dan penghasilanku yang tidak seberapa itu, cukup untuk tidak merepotkan Om Rudi dan keluarganya lagi.
Terlihat sosok perempuan urakan yang berambut pendek jabrik kaku ke atas berjalan tergopoh-gopoh mendekati laki-laki tua 45 tahun-an itu. Kemudian dia berbicara berbisik dan meledak di akhir kalimat. “Seenggaknya Nick bukan wanita pengkhianat kayak istri AYAH ITU, KAN!!? Hahaha...” Lalu dia masuk ke dalam rumahnya.
Nama panggilannya adalah Nick. Nama aslinya Niken. Dia memang seorang perempuan, namun dia tidak menginginkan sosok perempuan dalam dirinya. Dia mengubah penampilannya. Satu-satunya orang yang masih memanggilnya Niken, hanyalah Om Rudi dan Kak Ronal.
Sebenarnya Om Rudi kewalahan sekali mengurus anak perempuannya itu sendirian. Istri Om Rudi atau Ibu tiri Nick pergi meninggalkan mereka berdua sejak perusahaan Om Rudi bangkrut. Itu sekitar 10 tahun yang lalu. Dan itulah yang membuat Nick sangat benci dengan sosok ibu tirinya. Sedangkan ibu kandungnya, sudah meninggal setelah melahirkan Nick.
Tidak lama kemudian, muncul laki-laki yang tingginya kira-kira 170 cm, tidak gemuk dan tidak kurus, beralis tebal, berhidung mancung, potongan rambut yang sedikit jabrik keatas namun tidak berantakan, ditambah perpaduan lesung pipit pada senyumnya, menambah kesan yang manis.
“Maaf, Om… Seharusnya tadi Ronal lebih cepet.” Kata orang yang sejak tadi kutunggu, disana.
“Ya, nggak papalah. Kamu sudah cukup berjasa, kok. Haha.” Jawab Om Rudi sambil menepuk pundak laki-laki yang 2 tahun lebih tua dariku itu. “Mau minum teh dulu, Ron?”
Ah, enggak, Om. Soalnya, tuh, Willy udah nungguin.” Tampak Kak Ron menunjuk-nunjukkku.
Dan Om Rudi juga menoleh kepadaku. “Hm… Ya sudah kalo begitu.”
Lalu laki-laki itu masuk menyusul Nick ke dalam rumah. Sementara Kak Ron segera menuntun motor bututnya lagi menuju rumah kecil kami.
Setelah sampai, aku bertanya padanya. “Nick kenapa, Kak? Ada masalah lagi sama pacarnya?”
Dia diam.
“Hm… Bagus, dong, Kak… Itu artinya Kak Ron bisa deketin Nick.” Sorakku mencoba menghiburnya.
Aku tau sekali perasaan Kak Ron saat ini. Dipasti benar-benar mengkhawatirkan Nick. Tapi kemudian senyumnya mengembang dan menggaruk-garuk rambutku.
Di ruang tengah, setelah dia melemparkan pantatnya pada sofa coklat usang, senandung lagu lama muncul dari hati terdalamnya.
“Andaikan ku bisa mengungkapkan perasaanku…~~”
Aku setengah berlari menghampiri dan duduk di dekatnya.
“Kak, apa sih yang nggak bisa? Seenggaknya Kak Ron lebih tampan dari mantan-mantannya Nick. Iya, nggak?” Tukasku mengusilinya disusul dengan cekikikan.
Dia melirikku tajam dan menjitak kepalaku. “Ya, Jelaslah Kakak lebih tampan, lebih keren, dan lebih macho... Lha wong mantan-mantannya aja cewek semua…”
“Hahaha….” Kusambut dengan tawa yang menggelegar memenuhi ruangan ini.
Sabar, ya, Kak...
“Tunggu, Niken. Suatu saat nanti aku bakal bisa buat kamu jatuh cinta sama aku dan berubah 180 derajat dari sosok kamu yang sekarang.” Katanya menggebu-gebu entah pada siapa.
Sedikit kubahas lagi tentang Nick. Sudah kujelaskan tadi, Nick adalah seorang gadis yang membenci sosok wanita yang berada di dalam dirinya. Dan itu semua karna ibu tiri-nya. Dia tidak suka menjadi seorang wanita sejak usianya 13 tahun.        Dia menjadi berandal, urakan, dan bandel. Penampilannya pun tidak kalah macho dengan teman-teman lakinya. Termasuk caranya berbicara, caranya berjalan, bahkan caranya melihat cewek-cewek cantik. Karna terbiasa dengan sosoknya yang seperti itu, lama-kelamaan dia mulai menyukai teman-teman perempuannya, salah satunya adalah aku. Jika dihitung sampai sekarang, dia sudah pernah pacaran 6 kali dengan perempuan. Dia hampir 15 kali memintaku untuk menjadi pacarnya dan beratus-ratus kali menyatakan cinta padaku, tapi selalu aku tolak. Keadaan itu semakin membuat Kak Ron merasa prihatin dengan Nick. Lama kelamaan rasa kasiannya itu tumbuh menjadi rasa cinta dan ingin sekali merubahnya menjadi perempuan yang sesungguhnya sesuai dengan kodratnya. Perjuangan Kak Ron pasti sangat berat, sulit, dan luar biasa. Ibaratnya seperti membuat laki-laki normal jatuh cinta pada seorang laki-laki juga.
“Ckckck… Kasian sekali kakakku ini… Suka sama cewek jadi-jadian.” Sindirku menggoda dan langsung ambil start kabur menuju kamar.
“Heh!! Dasar…!! Awas kamu, ya, Willy!!” Sontaknya pada adiknya yang imut ini.
Lalu dia pun segera menuju kamarnya untuk sekedar beristirahat.
Lelaki tampan itu pun segera merebahkan tubuhnya yang lelah setelah seharian penuh beraktifitas. Sinar lampu senantiasa menyorot kedua kelopak matanya yang mulai sayup dan seolah memandang sesuatu nan jauh disana dengan tatapan kosong. Kemudian terlantun beberapa kata dari mulutnya.
“Niken, apa kamu nggak sadar betapa cantiknya kamu…”
Dia angkat lengannya pada keningnya, menghalangi beberapa helai cahaya yang ingin menyelinap masuk ke kedua matanya. Hingga beberapa menit kemudian, dia terlena dalam rajutan sebuah mimpi.

***

Bersambung, dulu, ya... (0_<)v
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar