Kamis, 16 Januari 2014

Flu Menurunkan Kepercaya-dirian Seseorang

Apa gunanya obat ketika hidung mampet, dan bahkan sinus sudah meradang?
“Aku hanya butuh udara segar!!”
Memang, ada pepatah mengatakan, “Tidak ada penyakit yang tidak bisa diobati”, tapi bukan berarti harus mengobati dengan obat pahit berbentuk tablet, kapsul, sampai sirup yang rasanya bikin muntah, kan?

Apalagi penyakit seperti ini (baca: influenza), jika dijejali obat malah hanya akan membuat aroma ingus semakin bau, dan sumpah demi apa lebih baik hidungku mampet lagi timbang harus mencium baunya.
Kadang-kadang aku muak dengan penyakit yang aku sadar adalah coba-an dari Tuhan, bahkan aku selalu mengeluh, “Aku benci flu, Ya Allah!! Aku benci!!”. Namun apalah daya, tidak ada manusia yang diciptakan sempurna tanpa penyakit di tubuhnya. Semua orang memiliki penyakit ‘khas’ nya masing-masing, dan aku juga sama. Jadi, aku harus menerima dengan keikhlasan, walaupun sebenarnya ‘ikhlas’ di mulut saja.
Aku sudah bosan dengan flu yang selalu menjangkit selama minimal dua minggu dan rutin terjadi setiap tiga bulan sekali ini. Walaupun flu bukanlah sejenis penyakit-penyakit berat yang mengakibatkan kematian, tapi flu cukup merepotkan juga, apalagi dilengkapi dengan radang sinus yang semakin membuatku menjadi gila. Flu biasa mungkin akan memampatkan satu lubang hidung dan hanya berlangsung selama maximal satu setengah minggu, tapi berbeda dengan flu yang dikomplikasikan oleh radang sinus, hidung akan memampatkan dua lubang secara bersamaan dan terjadi selama berminggu-minggu tergantung tingkat keparahan radang sinus, bahkan sakitnya diiringi dengan beberapa gejala yang memuakkan, seperti: Sakit kepala pada bagian dahi, wajah terasa nyeri, mata sakit, dan lain-lain. Selain mengganggu kenyamanan tubuh kita, penyakit ini pun pasti juga akan mengganggu aktifitas si penderita. Bahkan, flu berbanding lurus dengan penurunan tingkat kePEDEan seseorang. Maka, cukup wajar, jika penderita penyakit ini mengalami kesulitan untuk bergaul, bahkan sampai malu untuk berteman dengan siapapun. Penderita ini juga akan cukup sering membolos pelajaran ataupun perkuliahan, seperti yang kualami sendiri. Perkuliahanku terganggu dan bahkan kegiatan organisasi pun juga terganggu. Bukan hanya karna kesulitan menahan rasa malu, tapi juga tidak bisa terlalu lama beraktifitas, itu akan menyebabkan kepala sakit, badan lemas, dan sangat mengancam harga diriku sebagai ‘Manusia Sehat Wal’afiat’.
Benar-benar merepotkan sekali, sungguh…
Malam hari, susah tidur. Siang harinya, mengalami sakit kepala karna sulit bernafas, kepanasan, dan kecapean. Belum lagi menjaga supaya penyakit ini tidak memalukan diri sendiri. Coba bayangkan saja? Apa jadinya bila kita sulit mengendalikan pilek, dan tiba-tiba ingus meler dengan sendirinya di tengah-tengah keramaian? Atau tiba-tiba batuk dan menghasilkan suara aneh yang menjijikan? Memalukan sekali, bukan? Maka dari itu, flu sangat berbanding lurus dengan penurunan tingkat kepercaya dirian seseorang.
Apalagi aku pernah membaca artikel tentang radang sinus, yang dikatakan radang sinus tidak dapat diobati, walaupun sudah dioperasi, radang sinus pun akan tetap terjadi lagi karna salah satu penyebab radang sinus adalah pembedahan. Sementara yang menjadi penyebab radang sinusku adalah Rhinitis Alergi yang selama ini kuderita (*Rhinitis Alergi adalah suatu keadaan dimana penderita alergi dengan suatu allergen dan menyebabkan bersin-bersin atau dampak lainnya).  Aku cukup miris membacanya. Jadi aku berfikir, aku hanya harus bersabar dan akan mulai bersahabat dengan flu. Aku harus tau bagaimana membuka dua lubang hidungku, atau setidaknya satu lubang hidungku di saat pilek. Aku harus tau, apa saja makanan dan minuman yang harus kuhindari agar tidak terjadi peningkatan bau ingus. Aku juga harus tau bagaimana mengontrol aktifitas agar tidak terjadi penderitaan yang berlebihan pada tubuhku pada saat flu. Aku juga harus rajin terapi air garam untuk membunuh bakteri-bakteri yang memenuhi sinusku.

Aku harus bijaksana, karna di luar sana sangat banyak orang-orang yang memliki penyakit yang bahkan lebih parah daripada sekedar flu tiga bulan sekali. Aku harus bersyukur masih diberikan keadaan dengan tubuh yang normal, mengingat tidak sedikit penderita cacat di bumi ini. Semoga penyakit ini akan selalu mengingatkanku pada Allah, bahwa Dia selalu Maha Adil dengan segala kesempurnaan-Nya. Allah selalu memiliki cara tersendiri untuk memberikan kesempatan pada hamba-hamba-Nya untuk berdzikir. Karna sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah fana, begitu pula dengan penyakit yang diberikan-Nya. Ada kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya untuk kita, para manusia ciptaan-Nya.
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar