Apa
gunanya obat ketika hidung mampet, dan bahkan sinus sudah meradang?
“Aku
hanya butuh udara segar!!”
Memang,
ada pepatah mengatakan, “Tidak ada penyakit
yang tidak bisa diobati”, tapi bukan berarti harus mengobati dengan obat pahit
berbentuk tablet, kapsul, sampai sirup yang rasanya bikin muntah, kan?
Apalagi
penyakit seperti ini (baca: influenza), jika dijejali obat malah hanya akan membuat aroma ingus semakin bau, dan sumpah demi apa lebih baik hidungku mampet
lagi timbang harus mencium baunya.
Kadang-kadang
aku muak dengan penyakit yang aku sadar adalah coba-an dari Tuhan, bahkan aku
selalu mengeluh, “Aku benci flu, Ya Allah!! Aku benci!!”. Namun apalah daya,
tidak ada manusia yang diciptakan sempurna tanpa penyakit di tubuhnya. Semua orang
memiliki penyakit ‘khas’ nya masing-masing, dan aku juga sama. Jadi, aku harus
menerima dengan keikhlasan, walaupun sebenarnya ‘ikhlas’ di mulut saja.
Aku
sudah bosan dengan flu yang selalu menjangkit selama minimal dua minggu dan
rutin terjadi setiap tiga bulan sekali ini. Walaupun flu bukanlah sejenis
penyakit-penyakit berat yang mengakibatkan kematian, tapi flu cukup
merepotkan juga, apalagi dilengkapi dengan radang sinus yang semakin membuatku menjadi
gila. Flu biasa mungkin akan memampatkan satu lubang hidung dan hanya
berlangsung selama maximal satu setengah minggu, tapi berbeda dengan flu yang
dikomplikasikan oleh radang sinus, hidung akan memampatkan dua lubang secara
bersamaan dan terjadi selama berminggu-minggu tergantung tingkat keparahan radang
sinus, bahkan sakitnya diiringi dengan beberapa gejala yang memuakkan, seperti: Sakit kepala pada
bagian dahi, wajah terasa nyeri, mata sakit, dan lain-lain. Selain mengganggu
kenyamanan tubuh kita, penyakit ini pun pasti juga akan mengganggu aktifitas si
penderita. Bahkan, flu berbanding lurus dengan penurunan tingkat kePEDEan
seseorang. Maka, cukup wajar, jika penderita penyakit ini mengalami kesulitan
untuk bergaul, bahkan sampai malu untuk berteman dengan siapapun. Penderita ini
juga akan cukup sering membolos pelajaran ataupun perkuliahan, seperti yang kualami
sendiri. Perkuliahanku terganggu dan bahkan kegiatan organisasi pun juga
terganggu. Bukan hanya karna kesulitan menahan rasa malu, tapi juga tidak bisa
terlalu lama beraktifitas, itu akan menyebabkan kepala sakit, badan lemas, dan
sangat mengancam harga diriku sebagai ‘Manusia Sehat Wal’afiat’.
Benar-benar
merepotkan sekali, sungguh…
Malam
hari, susah tidur. Siang harinya, mengalami sakit kepala karna sulit bernafas,
kepanasan, dan kecapean. Belum lagi menjaga supaya penyakit ini tidak memalukan
diri sendiri. Coba bayangkan saja? Apa jadinya bila kita sulit mengendalikan
pilek, dan tiba-tiba ingus meler
dengan sendirinya di tengah-tengah keramaian? Atau tiba-tiba batuk dan
menghasilkan suara aneh yang menjijikan? Memalukan sekali, bukan? Maka dari
itu, flu sangat berbanding lurus dengan penurunan tingkat kepercaya dirian seseorang.
Apalagi
aku pernah membaca artikel tentang radang sinus, yang dikatakan radang sinus
tidak dapat diobati, walaupun sudah dioperasi, radang sinus pun akan tetap
terjadi lagi karna salah satu penyebab radang sinus adalah pembedahan. Sementara
yang menjadi penyebab radang sinusku adalah Rhinitis Alergi yang selama ini
kuderita (*Rhinitis Alergi adalah suatu keadaan dimana penderita alergi dengan
suatu allergen dan menyebabkan bersin-bersin atau dampak lainnya). Aku cukup miris membacanya. Jadi aku berfikir,
aku hanya harus bersabar dan akan mulai bersahabat dengan flu. Aku harus tau
bagaimana membuka dua lubang hidungku, atau setidaknya satu lubang hidungku di
saat pilek. Aku harus tau, apa saja makanan dan minuman yang harus kuhindari
agar tidak terjadi peningkatan bau ingus. Aku juga harus tau bagaimana
mengontrol aktifitas agar tidak terjadi penderitaan yang berlebihan pada
tubuhku pada saat flu. Aku juga harus rajin terapi air garam untuk membunuh
bakteri-bakteri yang memenuhi sinusku.
Aku
harus bijaksana, karna di luar sana sangat banyak orang-orang yang memliki
penyakit yang bahkan lebih parah daripada sekedar flu tiga bulan sekali. Aku harus
bersyukur masih diberikan keadaan dengan tubuh yang normal, mengingat tidak
sedikit penderita cacat di bumi ini. Semoga penyakit ini akan selalu
mengingatkanku pada Allah, bahwa Dia selalu Maha Adil dengan segala
kesempurnaan-Nya. Allah selalu memiliki cara tersendiri untuk memberikan
kesempatan pada hamba-hamba-Nya untuk berdzikir. Karna sesungguhnya kehidupan
di dunia ini hanyalah fana, begitu pula dengan penyakit yang diberikan-Nya. Ada
kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya untuk kita, para manusia ciptaan-Nya.