By : Naro RJ.
Ini adalah akhir bulan. Waktu dimana
dompet oranye usangku akhirnya menggendut setelah dua mingguan kurus kerempeng.
Honor mengajar di SMP biasa memang tidak banyak, tapi cukuplah untuk kebutuhan
sehari-hari bagi wanita lajang duapuluh-empat tahunan sepertiku.
Di
depan cermin, aku melihat lipstik peach
di tangan kanan menyentuh bibirku. Aku khawatir, wajahku nampak pucat. Apalagi
semalam aku begadang demi mengejar deadline event
cerpen dan cerbung. Wajarlah, aku masih penulis pemula.
Dan,
hari ini rencananya, aku akan membantu Nadia membuat cake dan memilih dandanan yang cocok untuknya. Sahabatku itu ingin
sekali menciptakan momen spesial untuk kekasihnya di hari ulang tahun kekasihnya.
Ini pertama kalinya dalam tiga tahun hubungan mereka. Sebelumnya, Nadia tidak pernah
sekalipun peduli dengan kekasihnya.
Awal
hubungan mereka, Nadia hanya terpaksa memberi kesempatan pada Dimas, kekasihnya
itu untuk menjadi pria yang paling dekat dengannya. Pertama, karna perjuangan
cinta Dimas yang sangat gigih dan pantang menyerah. Dan yang kedua, karna
banyak pihak yang mendukung hubungan mereka berdua. Itu saja, tidak ada rasa
cinta sama sekali di hati Nadia.
Nadia
adalah salah satu primadona se-fakultas. Dia pun pasti menginginkan pria yang wajahnya
sepadan dengan kecantikannya. Sayang, Dimas itu pria yang tampangnya pas-pasan
dan berkulit gelap terbakar matahari. Dia sama sekali tidak menyukupi salah
satu kriteria lelaki idaman Nadia.
Namun,
Dimas tidak gentar. Semangatnya tidak pernah memudar. Meski saingannya lumayan
banyak dan berat, dia tetap gigih, berjuang meraih kunci dan berusaha masuk ke
hati Nadia. Dari jasa sampai harta, semuanya rela kehabisan demi Nadia.
Karna
cinta tidak bisa dipaksa, Nadia juga berhak memilih apa yang terbaik bagi
dirinya. Dia berkali-kali berusaha membuat Dimas lelah dengan upaya-upayanya.
Karna dia pun tidak ingin cinta Dimas terlarut lama, dan nantinya ketika tiba
waktunya untuk menolak, khawatir malah rasanya jauh lebih menyakitkan bagi
Dimas. Demi itu, Nadia sengaja menghina Dimas di depan umum, memperlakukannya
seperti asisten, bahkan dia pernah mengerjainya bolak-balik mengambil barang
dari satu tempat ke tempat lain dan ke tempat lain lagi. Anehnya, Dimas tidak
jera. Cintanya sedikit pun tidak surut. Dia rela melakukan apapun demi Nadia. Hm...
aku patut iri.
Aku
sudah berdiri di halte, menunggu bus langganan. Meski hari minggu, masih saja
aku tidak kebagian tempat duduk tunggu bus. Kulirik jarum jam ber-strap
stainless perak di pergelangan tanganku, menunjukkan angka 9. Seharusnya saat
ini aku sedang mengetuk rumah Nadia. Tapi aku telat. Gara-gara jalanan gang
dari rumahku ke sini yang terlalu becek akibat hujan deras semalam,
memperlambat langkah kakiku. Bahkan lumpurnya pun berhasil melapisi sebagian sepatu
pantofel hitamku. Buruk...
Aku
jadi ingat kurang lebih dua setengah tahun yang lalu. Pada suatu siang saat
hujan lebat disertai angin, Nadia punya ide jahat mengerjai Dimas. Padahal
lelaki itu sedang di toko sembako ayahnya di pusat perbelanjaan kota. Nadia
menelfon dan memaksanya untuk segera menjemput ke kampus dengan alasan sakit
perut di awal menstruasi.
Dimas
memenuhi panggilannya. Sungguh memprihatinkan. Dia datang dengan pakaian yang
basah kuyup. Terdapat banyak lumpur di bagian kiri tubuhnya dan juga warna
merah yang mengalir dari punggung telapak tangannya. Dia terpeleset di jalan
karna terburu-buru. Motornya pun senasib dengan si pengendara. Namun, Nadia
malah menyambutnya dengan tawa yang menjengkelkan.
“Ya
ampuuun...” Kata Nadia kepadaku, kemudian tertawa lagi. “Liat muka begonya
Dimas, Dela... Lucu banget... Haha...” Lanjutnya.
Sebenarnya
aku merasa kasihan, tapi karna Nadia menganggapnya sebuah lelucon, itu pun
menjadi lucu bagiku. Sementara Dimas hanya menerimanya seraya mengelap wajah
yang basah dengan tersenyum pasrah. Dimas ya, Dimas. Cinta memang.......ya,
begitulah, aku tidak terlalu paham.
Dan
dua minggu yang lalu adalah penyebab kenapa Nadia bisa berubah drastis seperti
ini. Jadi, waktu itu dia mengulangi ulahnya lagi, mengerjai Dimas di hari hujan
hebat. Aku pun sedang bersama Nadia di rumahnya, cekikikan membayangkan wajah
lucu Dimas yang tetap sabar seperti dua setengah tahun lalu.
“Gila,
lu tega banget, Nad...” Ujarku.
“Gimana
lagi, Del... Aku kasihan sama Dimas. Dia tuh cowok baik-baik. Aku nggak mau
ngecewain dia. Sampai sekarang aku belum bisa kasih hati aku ke Dimas...”
Ungkap Nadia bersamaan dengan dering smartphone-nya.
“Dimas,
nih...” Kata Nadia sebelum mengangkat panggilan. “Halo...” Katanya pada
seseorang di seberang. “Ya?” Kemudian. “Hah??”
Tiba-tiba
Nadia membeku. Diam beberapa saat. Dia menatap kosong. Lalu menoleh padaku.
“Dimas... Kecelakaan...”
Nadia
merasa bersalah sekali. Dia sangat menyesal. Sejak saat itu dia sering
menjenguk Dimas di rumah sakit. Dia juga mulai memperhatikan Dimas. Dan
semalam, dia mengaku padaku, dia telah jatuh cinta pada Dimas. Yah, cinta
memang rumit. Awalnya benci, kasihan, perhatian, dan akhrinya berujung pada
cinta. Hari ini adalah hari dimana Nadia akan memberikan kejutan pada Dimas.
Dia akan mengungkapkan perasaannya pada Dimas. Akibat semalam Nadia sempat
tidak bisa tidur karna memikirkan Dimas dan ketika bisa tidur pun mimpinya
bertemu dengan Dimas. Katanya, di dalam mimpinya, Dimas ingin Nadia menemaninya
hari ini dan jujur dengan perasaannya.
Aku
sudah sampai di rumah mewah dengan halaman yang luas, menyusuri jalan cor-coran
di tengah rumput hijau yang membawaku sampai ke depan pintu dua daun. Aku
memencet bel, dan seorang wanita setengah baya membukakan pintu.
“Non
Nadia ada di kamarnya, non...” Kata wanita itu yang sudah puluhan tahun bekerja
di rumah Nadia.
“Iya,
mbok... Terimakasih.”
Aku
masuk melewati ruang tamu. Aku sudah biasa kemari, jadi aku hafal dimana kamar
Nadia. Aku sudah sampai di depan kamarnya. Pintunya tidak terkunci. Aku dapat melihat
Nadia dari celahnya. Dia sedang tiduran tengkurap dan masih dengan pakaian
rumah.
“Hm...
Niat nggak, sih, nih orang...?” Gumamku.
“Oii...!”
Sapaku sambil mendorong pelan pintu kamar Nadia. “Cih...” Nadia tidak mau
menggubris.
Dia
tidur? Pikirku.
“Hei,
Nad!” Aku menepuk betisnya yang putih mulus.
Dia
masih tidak mau menjawab. Aku pikir dia mengerjaiku. Rupanya ketika aku mencari
wajahnya, dia sedang menangis.
“Nad?”
Dia
akhirnya bangkit dan duduk dengan punggung yang lemas. Air matanya masih
mengalir deras membasahi pipinya. Dia sudah menangis cukup lama. Matanya
bengkak. Dan hidungnya telah memerah.
“Kamu
kenapa?” Aku mengelus pundaknya.
“Dimas...”
Aku
menunggu kata selanjutnya.
“Dimas,
Del... Dimas... Dimas udah... nggak ada...” Isakannya memecah suara udara di
ruang kamar ini. “Dimas udah meninggal, Dela... Aku, aku harus gim... gimana,
Dela...”
Aku
diam mematung. Aku kaget. Kemudian aku meraih tubuh Nadia dan memeluknya. Aku
benar-benar tidak menyangka. Kenapa Dimas secepat ini?
Terlambat...
Sudah terlambat. Nadia sangat terlambat. Dia tidak bisa mengungkapkan
perasaannya pada Dimas. Luka-luka akibat kecelakaan itu memang sangat parah.
Tidak heran jika Nadia menangis sampai seperti ini. Dia pasti sangat merasa
bersalah. Dia pasti merasa seperti pembunuh yang membunuh kekasihnya sendiri...
di hari ulang tahunnya. Dan mimpinya semalam... adalah pertemuan mereka yang
terakhir.
“Apa
Dimas cape, Del? Kenapa Dimas nggak mau nungguin aku lagi...?” Rengeknya.
Keangkuhan...
adalah penyakit jiwa yang paling berat. Keangkuhan yang berlebihan hanya akan
membatasi keberuntungan. Menganggap diri sendiri paling sempurna di antara
lainnya. Fisik hanyalah kulit dan tengkorak. Seperti halnya telur busuk,
keangkuhan adalah bakteri-bakteri pembusuknya. Dan baunya adalah hasilnya.
Dimas
adalah keberuntungan Nadia, seseorang yang mampu bertahan dan tulus
mencintainya. Sayang, dia terlambat menyadarinya. Sang waktu telah murka. Tuhan
sedang menghukumnya. Tuhan mencabut keberuntungannya. Tuhan memberi pelajaran
padanya. Supaya dia sadar, kecantikannya hanyalah cangkang yang selama ini menyimpan
kebusukan di dirinya.
***
THE END