Jumat, 02 Januari 2015

The Pride


By : Naro RJ.

Ini adalah akhir bulan. Waktu dimana dompet oranye usangku akhirnya menggendut setelah dua mingguan kurus kerempeng. Honor mengajar di SMP biasa memang tidak banyak, tapi cukuplah untuk kebutuhan sehari-hari bagi wanita lajang duapuluh-empat tahunan sepertiku.

Di depan cermin, aku melihat lipstik peach di tangan kanan menyentuh bibirku. Aku khawatir, wajahku nampak pucat. Apalagi semalam aku begadang demi mengejar deadline event cerpen dan cerbung. Wajarlah, aku masih penulis pemula.
Dan, hari ini rencananya, aku akan membantu Nadia membuat cake dan memilih dandanan yang cocok untuknya. Sahabatku itu ingin sekali menciptakan momen spesial untuk kekasihnya di hari ulang tahun kekasihnya. Ini pertama kalinya dalam tiga tahun hubungan mereka. Sebelumnya, Nadia tidak pernah sekalipun peduli dengan kekasihnya.
Awal hubungan mereka, Nadia hanya terpaksa memberi kesempatan pada Dimas, kekasihnya itu untuk menjadi pria yang paling dekat dengannya. Pertama, karna perjuangan cinta Dimas yang sangat gigih dan pantang menyerah. Dan yang kedua, karna banyak pihak yang mendukung hubungan mereka berdua. Itu saja, tidak ada rasa cinta sama sekali di hati Nadia.
Nadia adalah salah satu primadona se-fakultas. Dia pun pasti menginginkan pria yang wajahnya sepadan dengan kecantikannya. Sayang, Dimas itu pria yang tampangnya pas-pasan dan berkulit gelap terbakar matahari. Dia sama sekali tidak menyukupi salah satu kriteria lelaki idaman Nadia.
Namun, Dimas tidak gentar. Semangatnya tidak pernah memudar. Meski saingannya lumayan banyak dan berat, dia tetap gigih, berjuang meraih kunci dan berusaha masuk ke hati Nadia. Dari jasa sampai harta, semuanya rela kehabisan demi Nadia.
Karna cinta tidak bisa dipaksa, Nadia juga berhak memilih apa yang terbaik bagi dirinya. Dia berkali-kali berusaha membuat Dimas lelah dengan upaya-upayanya. Karna dia pun tidak ingin cinta Dimas terlarut lama, dan nantinya ketika tiba waktunya untuk menolak, khawatir malah rasanya jauh lebih menyakitkan bagi Dimas. Demi itu, Nadia sengaja menghina Dimas di depan umum, memperlakukannya seperti asisten, bahkan dia pernah mengerjainya bolak-balik mengambil barang dari satu tempat ke tempat lain dan ke tempat lain lagi. Anehnya, Dimas tidak jera. Cintanya sedikit pun tidak surut. Dia rela melakukan apapun demi Nadia. Hm... aku patut iri.
Aku sudah berdiri di halte, menunggu bus langganan. Meski hari minggu, masih saja aku tidak kebagian tempat duduk tunggu bus. Kulirik jarum jam ber-strap stainless perak di pergelangan tanganku, menunjukkan angka 9. Seharusnya saat ini aku sedang mengetuk rumah Nadia. Tapi aku telat. Gara-gara jalanan gang dari rumahku ke sini yang terlalu becek akibat hujan deras semalam, memperlambat langkah kakiku. Bahkan lumpurnya pun berhasil melapisi sebagian sepatu pantofel hitamku. Buruk...
Aku jadi ingat kurang lebih dua setengah tahun yang lalu. Pada suatu siang saat hujan lebat disertai angin, Nadia punya ide jahat mengerjai Dimas. Padahal lelaki itu sedang di toko sembako ayahnya di pusat perbelanjaan kota. Nadia menelfon dan memaksanya untuk segera menjemput ke kampus dengan alasan sakit perut di awal menstruasi.
Dimas memenuhi panggilannya. Sungguh memprihatinkan. Dia datang dengan pakaian yang basah kuyup. Terdapat banyak lumpur di bagian kiri tubuhnya dan juga warna merah yang mengalir dari punggung telapak tangannya. Dia terpeleset di jalan karna terburu-buru. Motornya pun senasib dengan si pengendara. Namun, Nadia malah menyambutnya dengan tawa yang menjengkelkan.
“Ya ampuuun...” Kata Nadia kepadaku, kemudian tertawa lagi. “Liat muka begonya Dimas, Dela... Lucu banget... Haha...” Lanjutnya.
Sebenarnya aku merasa kasihan, tapi karna Nadia menganggapnya sebuah lelucon, itu pun menjadi lucu bagiku. Sementara Dimas hanya menerimanya seraya mengelap wajah yang basah dengan tersenyum pasrah. Dimas ya, Dimas. Cinta memang.......ya, begitulah, aku tidak terlalu paham.
Dan dua minggu yang lalu adalah penyebab kenapa Nadia bisa berubah drastis seperti ini. Jadi, waktu itu dia mengulangi ulahnya lagi, mengerjai Dimas di hari hujan hebat. Aku pun sedang bersama Nadia di rumahnya, cekikikan membayangkan wajah lucu Dimas yang tetap sabar seperti dua setengah tahun lalu.
“Gila, lu tega banget, Nad...” Ujarku.
“Gimana lagi, Del... Aku kasihan sama Dimas. Dia tuh cowok baik-baik. Aku nggak mau ngecewain dia. Sampai sekarang aku belum bisa kasih hati aku ke Dimas...” Ungkap Nadia bersamaan dengan dering smartphone-nya.
“Dimas, nih...” Kata Nadia sebelum mengangkat panggilan. “Halo...” Katanya pada seseorang di seberang. “Ya?” Kemudian. “Hah??”
Tiba-tiba Nadia membeku. Diam beberapa saat. Dia menatap kosong. Lalu menoleh padaku. “Dimas... Kecelakaan...”
Nadia merasa bersalah sekali. Dia sangat menyesal. Sejak saat itu dia sering menjenguk Dimas di rumah sakit. Dia juga mulai memperhatikan Dimas. Dan semalam, dia mengaku padaku, dia telah jatuh cinta pada Dimas. Yah, cinta memang rumit. Awalnya benci, kasihan, perhatian, dan akhrinya berujung pada cinta. Hari ini adalah hari dimana Nadia akan memberikan kejutan pada Dimas. Dia akan mengungkapkan perasaannya pada Dimas. Akibat semalam Nadia sempat tidak bisa tidur karna memikirkan Dimas dan ketika bisa tidur pun mimpinya bertemu dengan Dimas. Katanya, di dalam mimpinya, Dimas ingin Nadia menemaninya hari ini dan jujur dengan perasaannya.
Aku sudah sampai di rumah mewah dengan halaman yang luas, menyusuri jalan cor-coran di tengah rumput hijau yang membawaku sampai ke depan pintu dua daun. Aku memencet bel, dan seorang wanita setengah baya membukakan pintu.
“Non Nadia ada di kamarnya, non...” Kata wanita itu yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah Nadia.
“Iya, mbok... Terimakasih.”
Aku masuk melewati ruang tamu. Aku sudah biasa kemari, jadi aku hafal dimana kamar Nadia. Aku sudah sampai di depan kamarnya. Pintunya tidak terkunci. Aku dapat melihat Nadia dari celahnya. Dia sedang tiduran tengkurap dan masih dengan pakaian rumah.
“Hm... Niat nggak, sih, nih orang...?” Gumamku.
“Oii...!” Sapaku sambil mendorong pelan pintu kamar Nadia. “Cih...” Nadia tidak mau menggubris.
Dia tidur? Pikirku.
“Hei, Nad!” Aku menepuk betisnya yang putih mulus.
Dia masih tidak mau menjawab. Aku pikir dia mengerjaiku. Rupanya ketika aku mencari wajahnya, dia sedang menangis.
“Nad?”
Dia akhirnya bangkit dan duduk dengan punggung yang lemas. Air matanya masih mengalir deras membasahi pipinya. Dia sudah menangis cukup lama. Matanya bengkak. Dan hidungnya telah memerah.
“Kamu kenapa?” Aku mengelus pundaknya.
“Dimas...”
Aku menunggu kata selanjutnya.
“Dimas, Del... Dimas... Dimas udah... nggak ada...” Isakannya memecah suara udara di ruang kamar ini. “Dimas udah meninggal, Dela... Aku, aku harus gim... gimana, Dela...”
Aku diam mematung. Aku kaget. Kemudian aku meraih tubuh Nadia dan memeluknya. Aku benar-benar tidak menyangka. Kenapa Dimas secepat ini?
Terlambat... Sudah terlambat. Nadia sangat terlambat. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada Dimas. Luka-luka akibat kecelakaan itu memang sangat parah. Tidak heran jika Nadia menangis sampai seperti ini. Dia pasti sangat merasa bersalah. Dia pasti merasa seperti pembunuh yang membunuh kekasihnya sendiri... di hari ulang tahunnya. Dan mimpinya semalam... adalah pertemuan mereka yang terakhir.
“Apa Dimas cape, Del? Kenapa Dimas nggak mau nungguin aku lagi...?” Rengeknya.
Keangkuhan... adalah penyakit jiwa yang paling berat. Keangkuhan yang berlebihan hanya akan membatasi keberuntungan. Menganggap diri sendiri paling sempurna di antara lainnya. Fisik hanyalah kulit dan tengkorak. Seperti halnya telur busuk, keangkuhan adalah bakteri-bakteri pembusuknya. Dan baunya adalah hasilnya.
Dimas adalah keberuntungan Nadia, seseorang yang mampu bertahan dan tulus mencintainya. Sayang, dia terlambat menyadarinya. Sang waktu telah murka. Tuhan sedang menghukumnya. Tuhan mencabut keberuntungannya. Tuhan memberi pelajaran padanya. Supaya dia sadar, kecantikannya hanyalah cangkang yang selama ini menyimpan kebusukan di dirinya.
***

THE END

Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar