“Kenapa daritadi dia ngeliat ke arah gue mulu, ya?” Gue mulai risih dengan sikap wanita sekitar 25 tahunan di depan gue.
“Hati-hati, Njul.” Bisik Bejo yang juga merasakan aura gelap.
Dari pandangan pertama, gue memang tidak menyukai wanita tersebut. Matanya yang tajam dan gelap, wajahnya kasar, dan kehadirannya tidak terduga-duga, membuat sekitar begidik ‘ngeri’. Wanita itu juga memiliki tingkat kekejaman dan kepekaan yang sangatlah luar biasa, dia tidak akan mudah melepaskan mangsanya begitu saja.
Disini, gue dan teman gue, Bejo diam membatu. Namun, wanita itu tidak juga menggeserkan titik pandangnya dari kami, se-senti pun. Kami mulai gusar, gundah, resah, dan gelisah, sementara waktu terus mengacam.
Akhirnya, Bejo, sang penyelamat gue mulai memunculkan ide briliannya seperti biasa. Kali ini sesuai siasat, dia akan mengalihkan perhatian wanita tersebut, dengan cara mengajakngobrol tetangga sebelah.
Cerdas!! Seketika, titik pandang wanita di depan kami itu pun berubah. Mudah sekali ternyata...
Dengan begitu, gue pun juga bisa memulai pergerakan. Pelan, pelan, dan pelan. Gue mulai dari memungut kertas di bawah gue. Perlahan, gue simak apa petunjuk yang ada di kertas tersebut.
“Ehm.”
Mampus! Wanita itu ternyata memergoki gue, kini dia sudah berdiri tepat di depan gue, menatap dengan penuh kebencian.
Deg-
“Hehe…” Gue hanya cengengesan, antara gugup dan takut.
Kemudian, dia menyerobot kertas di tangan gue dengan kasar.
“Nggak kapok juga, ya Njul? Di-LA-RANG MEN-CON-TEK!!” Tegasnya.
“Ketauan deh…” Ujar gue.
“Pulang sekolah, ukur lapangan!”
Mampus!
Gue tekankan, guru sejarah kami emang bener-bener kejem.
Apeeeeeeesssss!!!
______________________________________________________________________________
Jangan lupa kasih kritik di kolom komentar... Kasih rating juga ya, (10-100). Okey... (^0^)d