-I-
Sang Author==> Naro RJ.
Aku ingin menceritakan
tentang sahabatku. Namanya J. Revano Dika Syahputra. Aku memanggilnya Revan.
Dia satu tahun lebih tua dariku. Dia tampan, berkulit putih, tingginya 170 cm. Aku memiliki cerita menarik saat bersamanya. Saat itu, Revan masih semester 8, mahasiswa finansial. Dia sedang
mengerjakan bab 4 skripsinya, dan dia bekerja sambilan sebagai guru matematika
di SMP Karya Bangsa. Dan aku, semester 6.
Dimulai dari sini.
Daunan hijau tampak
bersinar. Pohonnya diguyur cahaya matahari. Di atas sana, warna matahari yang
tertahan di udara sangatlah biru. Awan-awannya pun seputih kapas. Aku Rayska
Permata. Masih ingat, kan? Gadis, 20 tahun, mahasiswa semester 6... single. Ah,
lupakan. Di pagi ini, aku sedang berdiri di atas batang salah satu dari
beribu-ribu pohon. Aku mengintip “proses” bermekarnya bunga-bunga. Sejak 10
menit yang lalu, aku masih tidak bisa percaya dengan kerja mataku sendiri. Ingin
kucongkel dan kubersihkan. Apakah objek bayangan yang kulihat sejauh 30 meter
itu benar-benar nyata? Lima manusia yang berterbangan dengan mengepakan sayap di
punggungnya, aku benar-benar menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri. Ya
iyalah, mana mungkin mata kepala orang lain. Bayangin aja...
“Woy, woy, mata gue di
kepala lo, kan? Gue lagi liat apa, woy?”
“Lo lagi liat––“
Halah, apa sih? Absurd, ah. Skip
saja.
Jadi aku benar-benar melihat
sesuatu yang seharusnya tidak ada. Bahkan aku memastikan kacamata minus 2,25 ini
kupakai dengan benar.
Semenjak aku terkurung di
hutan ––yang tidak kukenal–– ini bersama Revan, kami menemukan banyak hal-hal
aneh yang belum pernah kami alami sebelumnya. Contohnya pagi tadi, aku
terbangun dengan mata yang langsung bekerja maximal. Pohon yang kusenderi
akarnya tiba-tiba terlilit sesak oleh tanaman rambat dan lumut. Di sekitar pun penuh
dengan berbagai warna bunga sepatu. Padahal semalam aku tidak melihat satu pun
tanaman bunga di tempat kami beristirahat itu, hanya pohon-pohon besar yang
seram, bahkan aku sempat mencurigai mereka sebagai para buto ijo yang menyamar menjadi
pohon. Makanya aku penasaran. Apa aku yang memang terlalu kurang perhatian dengan
sekitar? Tapi ketika aku menanyakannya pada Revan...
“Kenapa banyak bunga
disini?” Tanyaku sembari menyungkil kotoran di sudut mata.
Dia tidak menjawab
pertanyaanku. Hanya memperhatikan bekas kayu bakar yang dibakarnya semalam. Dia
juga bingung.
Setelah tidak mendapat
jawaban, aku langsung beranjak menyusuri salah satu selah antara semak-semak
yang bisa kugunakan untuk berjalan. Aku ingin tahu dimana ujungnya. Dan selain
itu, sebenarnya aku sedang membiarkan Revan berduaan saja dengan Hermia, wanita
yang baru kami kenal semalam. Dia juga tersesat dan tidak tahu arah untuk
pulang. Wanita itu butuh seseorang untuk menghiburnya. Dan Revan adalah orang
yang tepat.
Meski mata baru terbuka,
tapi hidung mampu bekerja dengan baik. Mencium aroma kesegaran yang lembut. Aku
menyusuri setapak dengan batas rumput gemuk yang rapih. Di samping kiri dan
kanan, terdapat semak-semak berbentuk bola-bola seperti terawat oleh tukang
kebun. Ketika setapak bercabang dua, aku mengikuti ke arah kanan. Aku tertarik
dengan berisik-berisik apa di kejauhan sana di balik jajaran pohon-pohon tinggi
berdaun segar dengan rumput-rumput yang merambat. Lantas aku bersusah payah
memanjat ke salah satunya.
Begitulah bagaimana aku akhirnya
sampai di dahan ketiga pohon ini.
Sekarang aku sedang
mengintip dari celah... ehem, bukan celah, terlalu lebar untuk dikatakan celah,
dari pohon ini, aku melihat para makhluk cantik dengan sayap putih transparan.
Mereka sedang berterbangan dan menari-nari, berjarak sekitar 30 meter dariku.
Aku berani bersumpah, mereka sungguh mempesona. Rona merah di pipi, bola mata
biru yang indah, dan bentuk bibir yang manis itu sangat membuatku iri. Apalagi,
rambut yang terlihat lembut dan halus, aku sangat ingin memilikinya, meski
tatanannya simpel, hanya di gulung ke atas dan menyisakan sedikit menjuntai di
depan telinga, poninya melengkung jatuh menutupi dahi yang putih mulus, dan
warnanya sepadan dengan gaunnya, pink. Aku tidak tahu apa bahan gaun-gaun
tersebut, design-nya lumayan anggun
dengan lengan pendek bertumpuk dua di pundak. Dan bagian roknya menggembung
sampai menutupi atas dengkul dengan bentuk rose yang terbalik. Dari sayap di punggung
mereka yang indah, mereka menyebarkan serbuk-serbuk berkilau bagai serpihan
permata. Saat aku memindahkan pandangan ke bawah, aku baru mengerti apa gunanya
serbuk-serbuk tersebut. Merekalah yang menumbuhkan bunga di setiap semak dan
rerumputan.
“Fantastic! Fantastic!”
Gumamku menggebu-gebu. Aku sangat takjub. Rasanya aku sedang memasuki dunia
kartun fantasi.
Tiba-tiba sebuah pergerakan
cepat ––yang seolah menghasilkan cahaya berwarna coklat–– datang dari pohon jauh
di seberang sana. Cahaya tersebut berhenti di antara bunga-bunga bakung yang
sedang mekar. Dan muncullah seorang laki-laki atraktif. Beda seperti yang
lainnya, dia tidak memiliki sayap. Dia hanya mengandalkan kakinya untuk
melompat tinggi. Penampilannya pun jauh lebih berantakan dan gembel. Dia
mengenakan pakaian coklat lusuh dari benang wol yang lengannya hanya satu.
Celananya hitam se-atas dengkul dan tercabik-cabik di ujungnya. Dia juga
mengenakan alas kaki berwarna coklat yang sudah tidak layak pakai, seperti
boot, tapi bukan boot. Dia memiliki taring yang keluar sampai ke garis bibir
bawah. Dia manis, hidungnya mancung, telinganya aneh dengan bagian atas yang
lancip, rambutnya pirang gimbal, dan warna kulitnya tidak seputih yang lainnya,
namun sama bersihnya. Lalu, matanya... tunggu!
Aku merasa familiar dengan mata hitam pekat itu. Semalam...ya, itu semalam. Aku
melihat mata itu semalam. Sama persis.
Jadi, semalam ketika Revan
menghidupkan api unggun kecil, aku sedang berusaha untuk tidur di bawah pohon
seram dan berdoa supaya dunia mimpiku tidak terpengaruh pada nasib buruk yang
menimpa kami sejak setibanya kami di hutan ini. Ketika aku baru saja memasuki
alam imajinasi (kebiasaan sebelum tidur), sesuatu memijak salah satu dahan
pohon. Tentu saja aku langsung membuka kelopak mataku. Dan tepat saat itu, aku
mendapati dua mata hitam menatap tajam ke arahku. Aku tersontak dan bangun.
Mata-mata itu berkilau, seperti mata monster buas yang kulihat di film-film.
‘Apa itu?’ Atau... ‘Siapa
itu?’ Batinku bertanya-tanya.
“Rayska...?” Hermia yang berbaring
di sampingku memergokiku memucat.
Karna tak ada jawaban apapun
dariku, Hermia bangkit, kemudian segera menghampiri Revan. Dia pasti agak takut
dan melaporkan tentang keadaanku, terdengar dari bisik-bisik paniknya.
“Ray...” Kali ini Revan
menegurku. “Aku minta minum, dong...”
Aku segera mengambil botol
minum di ransel oranye-ku, dan segera berlari kecil kepadanya.
Revan meraih botol di
tanganku, “Kamu liat apa?” Tanyanya.
“Ada––”
“Hei!! Kau bisa melihat
mereka??” Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Suara yang renyah didengar.
Pikiranku kembali ke waktu
sekarang. Sosok coklat yang tadi berada 30 meter di sana tiba-tiba sudah berada
di depan hidungku. Aku hampir-hampir jatuh saking kagetnya. Aku tidak bergeming.
‘Apa yang semalam itu orang
ini?’ Aku berusaha memperhatikan mata-mata hitam miliknya.
“Fairies of flower.
Kuperkenalkan mereka untukmu... Apa kau tertarik? Mereka hanya melakukan
itu-itu saja setiap hari. Membagi
keindahan, kata mereka. Hah, aku muak sekali mendengarnya. Sejujurnya aku
lebih suka banyak pepohonan daripada bunga.” Dia berbicara dengan cepat sesuai
dengan perpindahannya yang kilat, dan... terlalu panjang lebar, padahal hanya
kalimat awalnya saja yang penting, menurutku.
Aku menoleh pada makhluk-makhluk
bersayap yang dimaksud. “A, eh... F, Fei...riis of...?” Aku mengulanginya
dengan terbata-bata. Apa aku benar-benar sedang melihat sekumpulan fairy?
“Salam kenal.” Dia tersenyum
lebar.
“Ka, kamu... kamu juga...
mereka... Maksud aku, kamu... juga bisa liat mereka... kan?”
“Tentu.” Dia berpindah ke
dahan lain. Dia benar-benar tidak bisa diam.
“Kamu juga...” Aku menelan
ludah sebentar. “Fairy?”
“Tentu saja, bukan.”
“Terus––”
“RAY..!!
Rayskaaa...!!” Aku mendengar suara Revan dari kejauhan.
Mataku mencari-cari darimana
suara itu berasal. Ada apa, ya?
Sepertinya dia sangat panik.
Aku menoleh lagi pada
laki-laki bertelinga lancip tersebut. “Aku... Rayska...” Aku memberikan namaku
padanya. Entah kenapa aku tertarik untuk mengenalnya.
“RAY...!!”
Kali ini suara Revan lebih dekat. Aku pun bisa melihat wujudnya dipertigaan
setapak.
“AKU TURUN...!” Aku
buru-buru menyahutnya.
Namun, sebelum melompat ke
bawah, aku terlebih dahulu menatap mata hitam laki-laki tersebut. Aku menunggu
namanya.
“Puck.” Dia mengerti
maksudku. “Sampai jumpa.” Lalu dia segera menghantam dahan dengan kakinya dan
melompat bagai belalang.
“Puck?” Nama yang satu ini,
aku merasa pernah mendengarnya. Tapi, dimana, ya?
Setelah berhasil turun, aku
lekas berlari menghampiri Revan yang terlihat ngos-ngosan. Aku ingin segera memberitahu
makhluk-makhluk aneh yang baru saja kulihat.
Aku menarik-narik pakaian
Revan seperti anak TK yang minta dibeliin balon. “Van, Van... Liat, di sana
ada––!” Sambil menunjuk-nunjuk.
“Kamu nggak papa?” Revan tidak
peduli. Dia tampak panik. Dia bahkan memastikannya dengan memutar tubuhku
sekali.
“Ya...” Aku bingung. “Aku
nggak papa.”
Dia menghela nafas. “Hermia
ilang.” Katanya.
“Hah? Kok, kok bisa?”
Tanyaku. Aku baru sadar sudut bibir Revan berdarah. Kemeja cream-coklat-nya
kotor dan sedikit robek di ujung lengannya. Kancingnya lepas satu
memperlihatkan kaos oblong hitam. Kulitnya yang honey-beige itu pun
nampak berdebu dan berkeringat. “Kamu sendiri kenapa, Van?”
Dia menarik pergelangan
tanganku dan membawaku berlari tanpa sepatah jawaban apa pun.
***
Sorry, bersambung...