Minggu, 19 Oktober 2014

Corat-Coret Novel. Book 2: (No Title)


-I-
Sang Author==> Naro RJ.

Aku ingin menceritakan tentang sahabatku. Namanya J. Revano Dika Syahputra. Aku memanggilnya Revan. Dia satu tahun lebih tua dariku. Dia tampan, berkulit putih, tingginya 170 cm. Aku memiliki cerita menarik saat bersamanya. Saat itu, Revan masih  semester 8, mahasiswa finansial. Dia sedang mengerjakan bab 4 skripsinya, dan dia bekerja sambilan sebagai guru matematika di SMP Karya Bangsa. Dan aku, semester 6.

Dimulai dari sini.
Daunan hijau tampak bersinar. Pohonnya diguyur cahaya matahari. Di atas sana, warna matahari yang tertahan di udara sangatlah biru. Awan-awannya pun seputih kapas. Aku Rayska Permata. Masih ingat, kan? Gadis, 20 tahun, mahasiswa semester 6... single. Ah, lupakan. Di pagi ini, aku sedang berdiri di atas batang salah satu dari beribu-ribu pohon. Aku mengintip “proses” bermekarnya bunga-bunga. Sejak 10 menit yang lalu, aku masih tidak bisa percaya dengan kerja mataku sendiri. Ingin kucongkel dan kubersihkan. Apakah objek bayangan yang kulihat sejauh 30 meter itu benar-benar nyata? Lima manusia yang berterbangan dengan mengepakan sayap di punggungnya, aku benar-benar menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri. Ya iyalah, mana mungkin mata kepala orang lain. Bayangin aja...
“Woy, woy, mata gue di kepala lo, kan? Gue lagi liat apa, woy?”
“Lo lagi liat––“
Halah, apa sih? Absurd, ah. Skip saja.
Jadi aku benar-benar melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada. Bahkan aku memastikan kacamata minus 2,25 ini kupakai dengan benar.

Semenjak aku terkurung di hutan ––yang tidak kukenal–– ini bersama Revan, kami menemukan banyak hal-hal aneh yang belum pernah kami alami sebelumnya. Contohnya pagi tadi, aku terbangun dengan mata yang langsung bekerja maximal. Pohon yang kusenderi akarnya tiba-tiba terlilit sesak oleh tanaman rambat dan lumut. Di sekitar pun penuh dengan berbagai warna bunga sepatu. Padahal semalam aku tidak melihat satu pun tanaman bunga di tempat kami beristirahat itu, hanya pohon-pohon besar yang seram, bahkan aku sempat mencurigai mereka sebagai para buto ijo yang menyamar menjadi pohon. Makanya aku penasaran. Apa aku yang memang terlalu kurang perhatian dengan sekitar? Tapi ketika aku menanyakannya pada Revan...
“Kenapa banyak bunga disini?” Tanyaku sembari menyungkil kotoran di sudut mata.
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Hanya memperhatikan bekas kayu bakar yang dibakarnya semalam. Dia juga bingung.
Setelah tidak mendapat jawaban, aku langsung beranjak menyusuri salah satu selah antara semak-semak yang bisa kugunakan untuk berjalan. Aku ingin tahu dimana ujungnya. Dan selain itu, sebenarnya aku sedang membiarkan Revan berduaan saja dengan Hermia, wanita yang baru kami kenal semalam. Dia juga tersesat dan tidak tahu arah untuk pulang. Wanita itu butuh seseorang untuk menghiburnya. Dan Revan adalah orang yang tepat.
Meski mata baru terbuka, tapi hidung mampu bekerja dengan baik. Mencium aroma kesegaran yang lembut. Aku menyusuri setapak dengan batas rumput gemuk yang rapih. Di samping kiri dan kanan, terdapat semak-semak berbentuk bola-bola seperti terawat oleh tukang kebun. Ketika setapak bercabang dua, aku mengikuti ke arah kanan. Aku tertarik dengan berisik-berisik apa di kejauhan sana di balik jajaran pohon-pohon tinggi berdaun segar dengan rumput-rumput yang merambat. Lantas aku bersusah payah memanjat ke salah satunya.
Begitulah bagaimana aku akhirnya sampai di dahan ketiga pohon ini.
Sekarang aku sedang mengintip dari celah... ehem, bukan celah, terlalu lebar untuk dikatakan celah, dari pohon ini, aku melihat para makhluk cantik dengan sayap putih transparan. Mereka sedang berterbangan dan menari-nari, berjarak sekitar 30 meter dariku. Aku berani bersumpah, mereka sungguh mempesona. Rona merah di pipi, bola mata biru yang indah, dan bentuk bibir yang manis itu sangat membuatku iri. Apalagi, rambut yang terlihat lembut dan halus, aku sangat ingin memilikinya, meski tatanannya simpel, hanya di gulung ke atas dan menyisakan sedikit menjuntai di depan telinga, poninya melengkung jatuh menutupi dahi yang putih mulus, dan warnanya sepadan dengan gaunnya, pink. Aku tidak tahu apa bahan gaun-gaun tersebut, design-nya lumayan anggun dengan lengan pendek bertumpuk dua di pundak. Dan bagian roknya menggembung sampai menutupi atas dengkul dengan bentuk rose yang terbalik. Dari sayap di punggung mereka yang indah, mereka menyebarkan serbuk-serbuk berkilau bagai serpihan permata. Saat aku memindahkan pandangan ke bawah, aku baru mengerti apa gunanya serbuk-serbuk tersebut. Merekalah yang menumbuhkan bunga di setiap semak dan rerumputan.
“Fantastic! Fantastic!” Gumamku menggebu-gebu. Aku sangat takjub. Rasanya aku sedang memasuki dunia kartun fantasi.
Tiba-tiba sebuah pergerakan cepat ––yang seolah menghasilkan cahaya berwarna coklat–– datang dari pohon jauh di seberang sana. Cahaya tersebut berhenti di antara bunga-bunga bakung yang sedang mekar. Dan muncullah seorang laki-laki atraktif. Beda seperti yang lainnya, dia tidak memiliki sayap. Dia hanya mengandalkan kakinya untuk melompat tinggi. Penampilannya pun jauh lebih berantakan dan gembel. Dia mengenakan pakaian coklat lusuh dari benang wol yang lengannya hanya satu. Celananya hitam se-atas dengkul dan tercabik-cabik di ujungnya. Dia juga mengenakan alas kaki berwarna coklat yang sudah tidak layak pakai, seperti boot, tapi bukan boot. Dia memiliki taring yang keluar sampai ke garis bibir bawah. Dia manis, hidungnya mancung, telinganya aneh dengan bagian atas yang lancip, rambutnya pirang gimbal, dan warna kulitnya tidak seputih yang lainnya, namun sama bersihnya. Lalu, matanya... tunggu! Aku merasa familiar dengan mata hitam pekat itu. Semalam...ya, itu semalam. Aku melihat mata itu semalam. Sama persis.

Jadi, semalam ketika Revan menghidupkan api unggun kecil, aku sedang berusaha untuk tidur di bawah pohon seram dan berdoa supaya dunia mimpiku tidak terpengaruh pada nasib buruk yang menimpa kami sejak setibanya kami di hutan ini. Ketika aku baru saja memasuki alam imajinasi (kebiasaan sebelum tidur), sesuatu memijak salah satu dahan pohon. Tentu saja aku langsung membuka kelopak mataku. Dan tepat saat itu, aku mendapati dua mata hitam menatap tajam ke arahku. Aku tersontak dan bangun. Mata-mata itu berkilau, seperti mata monster buas yang kulihat di film-film.
‘Apa itu?’ Atau... ‘Siapa itu?’ Batinku bertanya-tanya.
“Rayska...?” Hermia yang berbaring di sampingku memergokiku memucat.
Karna tak ada jawaban apapun dariku, Hermia bangkit, kemudian segera menghampiri Revan. Dia pasti agak takut dan melaporkan tentang keadaanku, terdengar dari bisik-bisik paniknya.
“Ray...” Kali ini Revan menegurku. “Aku minta minum, dong...”
Aku segera mengambil botol minum di ransel oranye-ku, dan segera berlari kecil kepadanya.
Revan meraih botol di tanganku, “Kamu liat apa?” Tanyanya.
“Ada––”
“Hei!! Kau bisa melihat mereka??” Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Suara yang renyah didengar.
Pikiranku kembali ke waktu sekarang. Sosok coklat yang tadi berada 30 meter di sana tiba-tiba sudah berada di depan hidungku. Aku hampir-hampir jatuh saking kagetnya. Aku tidak bergeming.
‘Apa yang semalam itu orang ini?’ Aku berusaha memperhatikan mata-mata hitam miliknya.
“Fairies of flower. Kuperkenalkan mereka untukmu... Apa kau tertarik? Mereka hanya melakukan itu-itu saja setiap hari. Membagi keindahan, kata mereka. Hah, aku muak sekali mendengarnya. Sejujurnya aku lebih suka banyak pepohonan daripada bunga.” Dia berbicara dengan cepat sesuai dengan perpindahannya yang kilat, dan... terlalu panjang lebar, padahal hanya kalimat awalnya saja yang penting, menurutku.
Aku menoleh pada makhluk-makhluk bersayap yang dimaksud. “A, eh... F, Fei...riis of...?” Aku mengulanginya dengan terbata-bata. Apa aku benar-benar sedang melihat sekumpulan fairy?
“Salam kenal.” Dia tersenyum lebar.
“Ka, kamu... kamu juga... mereka... Maksud aku, kamu... juga bisa liat mereka... kan?”
“Tentu.” Dia berpindah ke dahan lain. Dia benar-benar tidak bisa diam.
“Kamu juga...” Aku menelan ludah sebentar. “Fairy?”
“Tentu saja, bukan.”
“Terus––”
“RAY..!! Rayskaaa...!!” Aku mendengar suara Revan dari kejauhan.
Mataku mencari-cari darimana suara itu berasal. Ada apa, ya? Sepertinya dia sangat panik.
Aku menoleh lagi pada laki-laki bertelinga lancip tersebut. “Aku... Rayska...” Aku memberikan namaku padanya. Entah kenapa aku tertarik untuk mengenalnya.
“RAY...!!” Kali ini suara Revan lebih dekat. Aku pun bisa melihat wujudnya dipertigaan setapak.
“AKU TURUN...!” Aku buru-buru menyahutnya.
Namun, sebelum melompat ke bawah, aku terlebih dahulu menatap mata hitam laki-laki tersebut. Aku menunggu namanya.
“Puck.” Dia mengerti maksudku. “Sampai jumpa.” Lalu dia segera menghantam dahan dengan kakinya dan melompat bagai belalang.
“Puck?” Nama yang satu ini, aku merasa pernah mendengarnya. Tapi, dimana, ya?
Setelah berhasil turun, aku lekas berlari menghampiri Revan yang terlihat ngos-ngosan. Aku ingin segera memberitahu makhluk-makhluk aneh yang baru saja kulihat.
Aku menarik-narik pakaian Revan seperti anak TK yang minta dibeliin balon. “Van, Van... Liat, di sana ada––!” Sambil menunjuk-nunjuk.
“Kamu nggak papa?” Revan tidak peduli. Dia tampak panik. Dia bahkan memastikannya dengan memutar tubuhku sekali.
“Ya...” Aku bingung. “Aku nggak papa.”
Dia menghela nafas. “Hermia ilang.” Katanya.
“Hah? Kok, kok bisa?” Tanyaku. Aku baru sadar sudut bibir Revan berdarah. Kemeja cream-coklat-nya kotor dan sedikit robek di ujung lengannya. Kancingnya lepas satu memperlihatkan kaos oblong hitam. Kulitnya yang honey-beige itu pun nampak berdebu dan berkeringat. “Kamu sendiri kenapa, Van?”

Dia menarik pergelangan tanganku dan membawaku berlari tanpa sepatah jawaban apa pun.
***
Sorry, bersambung...

Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar