Ch. I :First Impression
By: Naro RJ.
“Jadi, apa tujuan kamu?” Tanya seorang perempuan berkulit coklat
yang usianya dua tahun lebih tua dari
usiaku. Suaranya menggema
mengisi ruang perkuliahan di lantai tiga yang waktu itu hanya ada
aku dan hanya ada dia. Sangat sepi.
Perempuan
tersebut tampak geram. Dia sudah tiga kali mengulangi pertanyaan yang sama, namun
aku tak kunjung memberikan jawaban. Saking geramnya, mungkin saja kalau satu
kali lagi aku membuatnya mengulangi pertanyaan itu, dia benar-benar bisa kabur
dengan segenap tenaga mencari ruangan kosong, menutup pintunya rapat-rapat,
kemudian jongkok ketakutan di pojok tembok sambil mengacak-acak kepalanya sendiri yang
tertutup kerudung, “Aku
tidak tahan lagiiii!!”. Dia menjadi gila, dan mencekik lehernya sendiri. Keesokan
harinya koran pagi datang dengan berita ini, “KARNA PERTANYAANNYA
DIABAIKAN, SEORANG SENIOR TEWAS BUNUH DIRI”. Dan aku akan merasa berdosa.
Saat
itu, kami duduk saling berhadapan, di kursi kelas bertema hitam dengan meja
tempel di lengannya. Situasinya cukup menegangkan. Ribuan peluh menetes,
membanjiri kulit punggungku yang sudah sedingin es.
Perempuan
tersebut sedang mengorek informasi dariku. Gaya duduknya
penuh wibawa, tulang punggungnya
tegap, dan kaki di balik rok panjang berwarna coklat itu
terlipat anggun. Tatapan matanya waspada, hampir tanpa kedip, menyiratkan ekspresi
yang tegas. Bak elang yang mengincar
mangsanya, dia mengamati
setiap detik gerakan ototku, dan nyaris membuatku kesulitan bernafas. Bibirnya kecoklatan tanpa sentuhan warna lipstik apapun,
dikatupkannya rapat-rapat setiap usai bicara. Dia sengaja membiarkan
rahangnya nampak
kokoh demi menunjukan karisma seorang senior
melalui aura
wajahnya. Mirip bos mafia. Tapi, aku
mengagumi gayanya. Cool!
Namanya,
“Arlinda Mike” dari angkatan 2008,
terbordir di bet nama yang dijahit di sebelah dada kanan
seragam pramuka-nya.
Sementara di sebelah kirinya, bet ambalan
“Aisyiah”. Dia adalah Ketua Racana Periode tahun 2010-2011, tepat satu
minggu sebelumnya adalah
peresmiannya. Lantas, apa itu Racana? Racana
adalah satuan pramuka terbesar di Perguruan Tinggi. Racana merupakan salah satu
organisasi mahasiswa di kampusku yang menarik perhatian dua teman baikku, dan
yang akhirnya menarikku juga.
“Umh...”
Aku masih belum dapat menjawab. “Hehe...” Cengar-cengir kayak orang bloon.
Aku
memang masih bingung akan menjawab apa. Kalau kubilang “Tujuanku
adalah kamu...”, takutnya salah dan malah diusir dari interview.
Proses
interview ini merupakan
proses ‘sakral’ yang wajib diadakan demi menentukkan apakah peserta interview layak atau tidak untuk diterima sebagai Tamu
Racana (*panggilan kepada
peserta lolos interview dan berhak menjadi kandidat Calon Anggota Racana). Proses
interview-nya
sengaja dilaksanakan di kampus saja, lantaran fasilitasnya tersedia dan tak
perlu repot membawanya kemana-mana. Panitianya terdiri dari kakak-kakak senior
angkatan 2009 sampai yang paling lama, angkatan 2006. Beberapa bertugas sebagai
interviewer di pos masing-masing, dua
orang bertugas sebagai pengondisi ruangan –dimana waktu itu kami dikondisikan di
sebuah ruangan sebelum akhirnya diinterview–, dan beberapa lagi berjaga di
depan sekaligus memanggil peserta interview.
Giliranku adalah
yang terakhir, di pos pertama. Jutaan cahaya
matahari membanjiri bumi. Berlari
secepat 300 ribu km/detik dari jarak kurang lebih 150 juta km. Sinarnya menusuk
atmosphere meninggalkan birunya. Menembus udara dan menyebar. Kemudian
menerobos butiran es dan kumpulan air yang melayang-layang. Menyelinap di antara
sel kaca jendela-jendela berbentuk persegi panjang yang
tirainya sengaja dibuka. Lalu menyerbu
tubuhku dan Kak Arlinda, serta beberapa kursi di ruang kelas. Menyelimuti
suasana yang masih tak ada suara apapun, kecuali suara detak
jantungku yang seolah terdengar sampai keluar. Bahkan lalat yang tidak sengaja
masuk pun, enggan membuat gerakan saat menyadari situasinya, kemudian
mengendap-endap pergi meninggalkanku yang terpuruk dramatis dan tertekan batin.
Lalat pun tahu betapa menegangkannya berhadapan dengan
bos mafia (lho?).
‘Tujuan’ memang
sesuatu yang pas untuk dipertanyakan dalam memulai sebuah langkah. Biasanya
tujuan awal memengarui hasil akhir yang paling dominan nantinya. Akan tetapi, saat itu aku tidak memiliki
tujuan. Ah, bukan tidak memiliki, namun tujuanku sangat tidak logis untuk
dijadikan jawaban.
Aku hanya ingin mengubah warna
hitam putih kehidupanku menjadi lebih berwarna dengan mencari banyak teman di
Racana. So sweet, ya?
Okay...
Kembali ke ruang interview. Selagi memikirkan
jawaban, sesekali aku memberikan senyum canggung pada sosok yang duduk tepat di
hadapanku itu,
dan berusaha menahan bibir serta tanganku agar tidak terlihat bergetar akibat
gugup.
Lama-lama
pandangan mataku menjadi tidak fokus, berpindah dari titik satu ke titik lainnya.
Hingga mataku berhenti pada tembok ruangan bercat cream, terpikat dengan sekelumit kejanggalan pada salah satu
areanya, yaitu sebuah raungan mahasiswa galau berupa coretan pena hitam akibat
di PHP-in dosen, ‘Bete itu, nungguin
dosen 7
hari 7
malem, tapi nggak dateng-dateng’. Waktu itu, topik “di PHP-in dosen” memang masih meraja.
“Ehm, Rayska Permata!!” Kak Arlinda
mengembalikan konsentrasiku.
Aku menoleh
seketika. Terkejut. “Siap!!”
“Ngelamun
lagi??” Tegurnya.
Aku
memperlihatkan sederet gigiku. Kemudian berkata, “Itu, ada yang nyoret-nyoret
tembok, Kak...”
“Biarin. Kerjaan anak idiot, itu.” Jawabnya menyalahkan anak idiot. Untuk seluruh anak
idiot dimanapun kalian berada, mohon maafkan Kak Arlinda.
“Oh,
gitu ya, Kak...”
“Iya!! Jadi........ apa tujuan kamu??” Kak Arlinda semakin
gregetan. “Apa,
lho tujuan kamu? Kenapa kok
pengen gabung dengan RA—CA—NA??!!
Ke—na—pa? Tu—ju—an?” Tegasnya sekali lagi, menjeda beberapa kata penting
demi membuatku memahami intinya.
Namun aku masih bertahan untuk diam. Mau bagaimana lagi, aku belum
memiliki jawaban yang logis dan terkesan cerdas. Sampai detik itu
pun yang terlintas di benakku hanyalah tiga alternatif jawaban absurd di bawah
ini berikut dengan rancangan ekspresi yang tepat pada saat menjawabnya.
Pertama.
Aku akan tiba-tiba berdiri tegap. Menampilkan mimik wajah yang tegas. Mata
memandang ke depan, ke masa depan. Sambil berbicara, tanganku mengepal ke atas
dengan semangat jiwa muda. ‘Aku ingin berjuang untuk Racana!!’.
Mata
Kak Arlinda pasti akan berkaca-kaca. Betapa kagumnya dia padaku. Tapi... itu berlebihan. Aku
belum mengenal Racana. Apa itu Racana? Ada
apa disana? Apa ada roller
coaster di dalamnya? Atau gerobak somay? Atau markas rahasia mafia? Aku belum
tau. Roller coaster, gerobak somay, dan markas rahasia mafia pun juga tidak ada
hubungannya. Kecuali, mafia main roller coaster pakai gerobak somay di markas
rahasia. Oh iya, itu juga tidak mungkin.
Kedua.
Aku akan mengatakannya sambil berdiri dan merentangkan
tangan. ‘Aku
ingin mengembangkan Racana!!’. Bunga-bunga
berjatuhan, lalu mataku terpejam dan aku tersenyum penuh arti.
Tapi,
Kak Arlinda pasti akan melancarkan pertanyaan berikutnya, “Mengembangkan yang seperti apa?”. Itu akan membuatku kejang-kejang
seketika.
Dan
yang alternatif terakhir...
‘Aku ingin MENGHANCURKAN Racana!!!’ Lalu aku mengiringinya dengan tawa kejahatan, ‘HA HA HA!!!’.
‘Aku ingin MENGHANCURKAN Racana!!!’ Lalu aku mengiringinya dengan tawa kejahatan, ‘HA HA HA!!!’.
Namun, itu artinya aku sudah gila. Nenek-nenek pikun pun tau, jawaban ketiga adalah bom bunuh diri. Sebelum aku benar-benar menghancurkan Racana, Kak Arlinda pasti akan bertindak lebih dulu. Mungkin
nanti, dia tiba-tiba berubah
menjadi bos mafia dan mengundang anak buahnya untuk memusnahkanku tanpa sisa.
Oh,
tidaaakkk!!!
Jadi
tiga jawaban itu harus kusimpan. Aku tidak mungkin membunuh gayaku sendiri. Dan
harapanku satu-satunya adalah semoga saja angin puting beliung
datang menghancurkan gedung tiga lantai itu,
sehingga aku tidak perlu menjawab pertanyaannya, atau paling tidak Kak
Arlinda harus lupa ingatan.
“Ehem...”
Kak Arlinda berdeham.
Aku
terlalu lama diam.
Lalu,
mau tak mau aku pun harus menjawabnya. Kutarik paksa
jiwa-jiwa keberanian yang kurasakan lewat aliran darah saat mengontrol tempo
detak jantungku. Kuhirup
nafas perlahan, dan akhirnya kutumpahkan jawaban dalam satu hembusan.
“Tujuanku menyusul, Kak.”
Krik…
Krik…
Krik…
Hening…
Aku
diam lagi, karna Kak Arlinda juga diam. Wajahnya tercengang,
menampilkan kerut di dahi. Mungkin saja
dia
shock atas jawaban idiot yang didapat, padahal dia telah memberikan
waktu cukup lama untuk aku berpikir.
Dan aku panik.
“Ah, sebenernya saya suka jalan-jalan, main-main, Kak Arlinda. Makanya....... i-i-ikut Racana, hehe, Kak...”
Aku langsung meneruskan sebelum terjadi
pertumpahan darah. Aku berusaha meluruskan, namun
hasilnya justru lebih bengkok.
Kerutan
di dahi Kak Arlinda pun bertambah banyak.
“Ah,
eh... tujuannya boleh nyusul, Kak??”
OMG!!!
Pikiranku meledak. Panik sungguh. Rasanya aku ingin berlari ke hutan. Lalu ke pantai.
Kemudian kuteriak... “Pecahkan saja
gerobak somaynya biar ramai! Biar mengaduh sampai gaduh!”