Jumat, 24 April 2015

Book 1: "Sahabat Scout" Obsession-Ch.I

Ch. I :First Impression


By: Naro RJ. 

Jadi, apa tujuan kamu?” Tanya seorang perempuan berkulit coklat yang usianya dua tahun lebih tua dari usiaku. Suaranya menggema mengisi ruang perkuliahan di lantai tiga yang waktu itu hanya ada aku dan hanya ada dia. Sangat sepi. 
Perempuan tersebut tampak geram. Dia sudah tiga kali mengulangi pertanyaan yang sama, namun aku tak kunjung memberikan jawaban. Saking geramnya, mungkin saja kalau satu kali lagi aku membuatnya mengulangi pertanyaan itu, dia benar-benar bisa kabur dengan segenap tenaga mencari ruangan kosong, menutup pintunya rapat-rapat, kemudian jongkok ketakutan di pojok tembok sambil mengacak-acak kepalanya sendiri yang tertutup kerudung, “Aku tidak tahan lagiiii!!”. Dia menjadi gila, dan mencekik lehernya sendiri. Keesokan harinya koran pagi datang dengan berita ini, “KARNA PERTANYAANNYA DIABAIKAN, SEORANG SENIOR TEWAS BUNUH DIRI”. Dan aku akan merasa berdosa.
Saat itu, kami duduk saling berhadapan, di kursi kelas bertema hitam dengan meja tempel di lengannya. Situasinya cukup menegangkan. Ribuan peluh menetes, membanjiri kulit punggungku yang sudah sedingin es.
Perempuan tersebut sedang mengorek informasi dariku. Gaya duduknya penuh wibawa, tulang punggungnya tegap, dan kaki di balik rok panjang berwarna coklat itu terlipat anggun. Tatapan matanya waspada, hampir tanpa kedip, menyiratkan ekspresi yang tegas. Bak elang yang mengincar mangsanya, dia mengamati setiap detik gerakan ototku, dan nyaris membuatku kesulitan bernafas. Bibirnya kecoklatan tanpa sentuhan warna lipstik apapun, dikatupkannya rapat-rapat setiap usai bicara. Dia sengaja membiarkan rahangnya nampak kokoh demi menunjukan karisma seorang senior melalui aura wajahnya. Mirip bos mafia. Tapi, aku mengagumi gayanya. Cool!
Namanya, Arlinda Mike” dari angkatan 2008, terbordir di bet nama yang dijahit di sebelah dada kanan seragam pramuka-nya. Sementara di sebelah kirinya, bet ambalan “Aisyiah”. Dia adalah Ketua Racana Periode tahun 2010-2011, tepat satu minggu sebelumnya adalah peresmiannya. Lantas, apa itu Racana? Racana adalah satuan pramuka terbesar di Perguruan Tinggi. Racana merupakan salah satu organisasi mahasiswa di kampusku yang menarik perhatian dua teman baikku, dan yang akhirnya menarikku juga.
“Umh...” Aku masih belum dapat menjawab. “Hehe...” Cengar-cengir kayak orang bloon.
Aku memang masih bingung akan menjawab apa. Kalau kubilang “Tujuanku adalah kamu...”, takutnya salah dan malah diusir dari interview.
Proses interview ini merupakan proses ‘sakral’ yang wajib diadakan demi menentukkan apakah peserta interview layak atau tidak untuk diterima sebagai Tamu Racana (*panggilan kepada peserta lolos interview dan berhak menjadi kandidat Calon Anggota Racana). Proses interview-nya sengaja dilaksanakan di kampus saja, lantaran fasilitasnya tersedia dan tak perlu repot membawanya kemana-mana. Panitianya terdiri dari kakak-kakak senior angkatan 2009 sampai yang paling lama, angkatan 2006. Beberapa bertugas sebagai interviewer di pos masing-masing, dua orang bertugas sebagai pengondisi ruangan –dimana waktu itu kami dikondisikan di sebuah ruangan sebelum akhirnya diinterview–, dan beberapa lagi berjaga di depan sekaligus memanggil peserta interview.
Giliranku adalah yang terakhir, di pos pertama. Jutaan cahaya matahari membanjiri bumi. Berlari secepat 300 ribu km/detik dari jarak kurang lebih 150 juta km. Sinarnya menusuk atmosphere meninggalkan birunya. Menembus udara dan menyebar. Kemudian menerobos butiran es dan kumpulan air yang melayang-layang. Menyelinap di antara sel kaca jendela-jendela berbentuk persegi panjang yang tirainya sengaja dibuka. Lalu menyerbu tubuhku dan Kak Arlinda, serta beberapa kursi di ruang kelas. Menyelimuti suasana yang masih tak ada suara apapun, kecuali suara detak jantungku yang seolah terdengar sampai keluar. Bahkan lalat yang tidak sengaja masuk pun, enggan membuat gerakan saat menyadari situasinya, kemudian mengendap-endap pergi meninggalkanku yang terpuruk dramatis dan tertekan batin. Lalat pun tahu betapa menegangkannya berhadapan dengan bos mafia (lho?).
‘Tujuan’ memang sesuatu yang pas untuk dipertanyakan dalam memulai sebuah langkah. Biasanya tujuan awal memengarui hasil akhir yang paling dominan nantinya. Akan tetapi, saat itu aku tidak memiliki tujuan. Ah, bukan tidak memiliki, namun tujuanku sangat tidak logis untuk dijadikan jawaban. Aku hanya ingin mengubah warna hitam putih kehidupanku menjadi lebih berwarna dengan mencari banyak teman di Racana. So sweet, ya?
Okay... Kembali ke ruang interview. Selagi memikirkan jawaban, sesekali aku memberikan senyum canggung pada sosok yang duduk tepat di hadapanku itu, dan berusaha menahan bibir serta tanganku agar tidak terlihat bergetar akibat gugup.
Lama-lama pandangan mataku menjadi tidak fokus, berpindah dari titik satu ke titik lainnya. Hingga mataku berhenti pada tembok ruangan bercat cream, terpikat dengan sekelumit kejanggalan pada salah satu areanya, yaitu sebuah raungan mahasiswa galau berupa coretan pena hitam akibat di PHP-in dosen, ‘Bete itu, nungguin dosen 7 hari 7 malem, tapi nggak dateng-dateng’. Waktu itu, topik “di PHP-in dosen” memang masih meraja.
“Ehm, Rayska Permata!!” Kak Arlinda mengembalikan konsentrasiku.
Aku menoleh seketika. Terkejut. “Siap!!”
“Ngelamun lagi??” Tegurnya.
Aku memperlihatkan sederet gigiku. Kemudian berkata, “Itu, ada yang nyoret-nyoret tembok, Kak...”
“Biarin. Kerjaan anak idiot, itu.” Jawabnya menyalahkan anak idiot. Untuk seluruh anak idiot dimanapun kalian berada, mohon maafkan Kak Arlinda.
“Oh, gitu ya, Kak...”
Iya!! Jadi........ apa tujuan kamu??” Kak Arlinda semakin gregetan. “Apa, lho tujuan kamu? Kenapa kok pengen gabung dengan RA—CA—NA??!! Ke—na—pa? Tu—ju—an?” Tegasnya sekali lagi, menjeda beberapa kata penting demi membuatku memahami intinya.
Namun aku masih bertahan untuk diam. Mau bagaimana lagi, aku belum memiliki jawaban yang logis dan terkesan cerdas. Sampai detik itu pun yang terlintas di benakku hanyalah tiga alternatif jawaban absurd di bawah ini berikut dengan rancangan ekspresi yang tepat pada saat menjawabnya.
Pertama. Aku akan tiba-tiba berdiri tegap. Menampilkan mimik wajah yang tegas. Mata memandang ke depan, ke masa depan. Sambil berbicara, tanganku mengepal ke atas dengan semangat jiwa muda. ‘Aku ingin berjuang untuk Racana!!’.
Mata Kak Arlinda pasti akan berkaca-kaca. Betapa kagumnya dia padaku. Tapi... itu berlebihan. Aku belum mengenal Racana. Apa itu Racana? Ada apa disana? Apa ada roller coaster di dalamnya? Atau gerobak somay? Atau markas rahasia mafia? Aku belum tau. Roller coaster, gerobak somay, dan markas rahasia mafia pun juga tidak ada hubungannya. Kecuali, mafia main roller coaster pakai gerobak somay di markas rahasia. Oh iya, itu juga tidak mungkin.
Kedua. Aku akan mengatakannya sambil berdiri dan merentangkan tangan. ‘Aku ingin mengembangkan Racana!!’. Bunga-bunga berjatuhan, lalu mataku terpejam dan aku tersenyum penuh arti.
Tapi, Kak Arlinda pasti akan melancarkan pertanyaan berikutnya, “Mengembangkan yang seperti apa?”. Itu akan membuatku kejang-kejang seketika.
Dan yang alternatif terakhir...
‘Aku ingin MENGHANCURKAN Racana!!!’ Lalu aku mengiringinya dengan tawa kejahatan, ‘HA HA HA!!!’.
Namun, itu artinya aku sudah gila. Nenek-nenek pikun pun tau, jawaban ketiga adalah bom bunuh diri. Sebelum aku benar-benar menghancurkan Racana, Kak Arlinda pasti akan bertindak lebih dulu. Mungkin nanti, dia tiba-tiba berubah menjadi bos mafia dan mengundang anak buahnya untuk memusnahkanku tanpa sisa.
Oh, tidaaakkk!!!
Jadi tiga jawaban itu harus kusimpan. Aku tidak mungkin membunuh gayaku sendiri. Dan harapanku satu-satunya adalah semoga saja angin puting beliung datang menghancurkan gedung tiga lantai itu, sehingga aku tidak perlu menjawab pertanyaannya, atau paling tidak Kak Arlinda harus lupa ingatan.
“Ehem...” Kak Arlinda berdeham.
Aku terlalu lama diam.
Lalu, mau tak mau aku pun harus menjawabnya. Kutarik paksa jiwa-jiwa keberanian yang kurasakan lewat aliran darah saat mengontrol tempo detak jantungku. Kuhirup nafas perlahan, dan akhirnya kutumpahkan jawaban dalam satu hembusan.
Tujuanku menyusul, Kak.
Krik…
Krik…
Krik…
Hening…
Aku diam lagi, karna Kak Arlinda juga diam. Wajahnya tercengang, menampilkan kerut di dahi. Mungkin saja dia shock atas jawaban idiot yang didapat, padahal dia telah memberikan waktu cukup lama untuk aku berpikir.
Dan aku panik. “Ah, sebenernya saya suka jalan-jalan, main-main, Kak Arlinda. Makanya....... i-i-ikut Racana, hehe, Kak...” Aku langsung meneruskan sebelum terjadi pertumpahan darah. Aku berusaha meluruskan, namun hasilnya justru lebih bengkok.
Kerutan di dahi Kak Arlinda pun bertambah banyak.
“Ah, eh... tujuannya boleh nyusul, Kak??”
OMG!!! Pikiranku meledak. Panik sungguh. Rasanya aku ingin berlari ke hutan. Lalu ke pantai. Kemudian kuteriak... “Pecahkan saja gerobak somaynya biar ramai! Biar mengaduh sampai gaduh!”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ch. I |  Ch. II  |  Ch. III  |  Ch. IV
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar