Hembus angin berjatuhan di kulit-kulitku
Berteriak serempak di kegelapan malam ini
Tak kusadari, bintang-bintang telah
menyapaku dari balik kabut
Aku tenggelam dalam gelap jiwa
Hatiku telah tehantam ombak kehidupan
Tanpa kusadari, aku telah kehilangan cahaya
Tersesat dalam dunia hitam
Aku tekurung dalam ruang dusta
Bisik-bisik beracun setia mendampingiku
Ribuan nista membelengguku
Jiwaku ternoda
Mataku telah terhasut di kehitaman
Telingaku tak mampu mendengar mega ayat
alqur’an
Bibirku terhimpit untuk berdzikir
Nafasku kehilangan asma Allah
Aku menangis dalam penyesalan
Tak tau apa yang harus kuperbuat
Hatiku tersayat-sayat sampai ke pucuk
kalbuku
Jiwaku telah terluka
Saat sinar kecil datang melambai menatapku
Aku terdiam bisu tanpa celah
Apakah aku pantas diterangi?
Apakah aku pantas disapa?
Ku tau aku terhina
Ku tau aku berdosa
Apakah aku pantas diterangi?
Apakah aku pantas disapa?
Seseorang telah memberi jawaban
Allah selalu menemanimu saat kau tersesat
Allah selalu menuntunmu saat kau jatuh
Allah akan senang bila kau meraih cahaya
itu
Aku tersenyum pada sebuah peluang
Aku harus menembus celah
Aku harus berenang ke terang jiwa
Ku tegarkan hatiku dari hantaman ombak kehidupan
Titik-titik bintang mengerling
Ia mendukungku bersama rebulan yang sabit
Angin bertiup menyorakiku
Berharap aku selamat dari sesatku
Ya Allah...
Maafkan hamba selama ini
Ku akan mencoba hapuskan dosa
Ku akan mencoba mencari setiap titik terang
Kuraih sinar kecil yang tadi melambaiku
Ku peluk asma Allah yang mengendap-endap
ditelingaku
Kuputihkan lembaran-lembaran yang dulu
hitam
Kini jiwaku terobati...
Terimakasih, ya Allah...
Aku mencintai-Mu...
Cintailah hamba...
Amien ya robbal ‘alamin...
(NRJ)
Pringsewu,
Oktober 2009
*terbit di tabloid GAUL