Senin, 13 Januari 2014

Dimana Kau Menyembunyikan Pacarku, Ya Allah?

(Ini adalah naskah artikelku yang gagal dalam Event Menulis "Curhat Jomblo Minta Jodoh" yang diadakan salah satu penerbit di Indonesia, Diva Press)
“Aku pengen punya pacar!!”
Kata-kata itu lah yang selalu muncul setiap aku menemukan atau memikirkan kejadian-kejadian tertentu. Seperti contohnya, ketika suatu hari aku kelaparan dan mampir ke warung bakso, baru saja melangkahkan kaki melewati pintu, aku sudah dapat melihat pasangan-pasangan yang duduk berduaan. Mereka makan berdua, mereka ngobrol berdua, mereka tertawa berdua, mereka bercanda berdua, bahkan mereka mengatur waktu melahap bakso berdua.
Yang cewek bilang “Satu…Dua…Tiga…Happ!!!”
Yang cowok bilang “Yeyy!!” dengan antusiasnya sambil jingkrak-jingkrak seperti anak balita dapat balon.
Sedangkan aku??? Aku hanya makan sendirian, duduk sendirian, bete sendirian. Tapi aku cukup bisa mengontrol diri untuk tidak bicara sendirian, bahkan bercanda sendirian. Sebab, mereka pasti akan berpikir aku gila.
Aku adalah gadis berumur 21 tahun. Cukup dewasa, bukan? Tapi apakah ada orang yang menyangka bahwa gadis seusiaku belum pernah berpacaran satu kali pun selama hidup? Aku tahu, pasti sulit untuk dipercaya. Karna di era seperti ini, pacaran sangatlah biasa, bahkan untuk anak-anak yang baru saja lulus dari Sekolah Dasar, dan itu membuatku malu bukan main. Aku kalah dengan anak SD, ya Tuhan!
Kenyataan ini selalu saja mengusikku. Menggangguku setiap saat. Apalagi disaat aku sedang memiliki banyak waktu senggang. “Kenapa aku nggak punya pacar? Apa aku jelek? Kenapa aku nggak laku-laku? Apa aku dikutuk?”
Bahkan aku pernah bertanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa, “Dimana Kau telah menyembunyikan pacarku, Ya Allah?”
Maka dari itu aku harus selalu menyibukan diri, sibuk, sibuk, dan terus sibuk, walaupun hanya menghitung semut-semut yang keluar dari sarangnya.
Aku selalu iri dengan mereka-mereka yang mempunyai pacar. Ketika berangkat dan pulang kuliah, mereka diantar-jemput pacar. Sedangkan aku? Sendirian. Paling pol, dengan Bapak atau tukang ojek. Ketika punya tugas kuliah, mereka akan dibantu atau ditemani oleh pacarnya. Sedangkan aku? Gupek sendirian. Dan ketika malam minggu, malam senin, malam, selasa, atau malam-malam apa saja, mereka akan menghabiskan waktu jalan-jalan berdua. Sedangkan aku? Aku harus pura-pura sekarat dan menyembunyikan diri di dalam laci meja belajarku.
Ada saat-saat menyebalkan yang kulalui bersama teman-temanku. Yang pertama, momen disaat kami berkumpul. Mereka pasti akan selalu ngotot untuk saling membicarakan kelebihan dan kekurangan pacar masing-masing. Dan aku harus mengalah menjadi pendengar yang setia tanpa cerita. Miris.
Yang kedua, lebih miris lagi, saat aku sedang berkumpul bersama teman-temanku, sebut saja A, B, C, D. Sedang asik-asiknya kami ngobrol, tiba-tiba si A dapat telefon dari pacarnya. Tinggal ber-empat. Dan menyusul si B dapat video call dari pacarnya juga. Tinggal ber-tiga. Belum selesai menggosipi A dan B, si C sudah sibuk mengetik sms untuk pacarnya. Sedangkan si D, kemudian disusul oleh pacaranya. Akhirnya, tinggal aku sendirian. Diam berjuta-juta kata. Sibuk menjadi penonton, sebelum akhirnya aku salto ke kamar mandi kemudian memasukan diri ke bak mandi. Tragis.
Dan yang lebih tragis lagi, momen ketiga, dimana ada kejadian aku ngumpul bersama teman-temanku yang sedang dalam proses pedekate-an atau mendekati pacaran. Awalnya mengikutsertakan aku dalam perbincangan, namun lama-kelamaan mereka jadi sibuk sendiri-sendiri. Si A dan B, terbawa suasana berdua, seolah dunia hanya milik mereka saja. Mengacuhkanku. Bisik-bisikan. Kemudian saling menatap. Diam. Setelah itu tertawa. Berbeda lagi dengan si C dan si D, mereka lebih suka bercanda dan saling menghina.
Si C bilang, “Kamu bego.”
Si D balas, “Kamu yang bego.”
Kemudian mereka tertawa. Cekikikan seperti mak lampir dengan ritme yang sama. Hehehe. Sedangkan aku? Lagi-lagi aku harus membuat tembok berbicara padaku.
Aku pernah mencurahkan isi hatiku dengan penuh kedramatisan pada beberapa sahabat. Mereka pun selalu mengatakan dengan inti yang sama,
“Kalo bisa pertahanin. Pacaran itu sebenernya nggak ada manfaatnya juga. Cuma mendatangkan zina. Pacaran juga bikin kecanduan. Kalo kamu udah putus, kamu bakal cari yang baru. Putus lagi, cari lagi. Begitu seterusnya. Nanti malah kamu dibilang playgirl atau perempuan nggak bener.”
Ya. Aku mencoba menerima pidato mereka. Tapi kenapa? Mereka tau itu salah, tapi kenapa mereka masih tetap berpacaran? Kenapa? Kenapa, Ya Allah??
Tapi, jika dipikir-pikir ada benarnya juga. Untuk apa kita pacaran? Bahkan kita hanya diwajibkan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Jika kita selidiki lebih dalam, ada banyak kerugian yang menimpa orang-orang yang berpacaran. Yang pertama cita-cita terputus, karna terlalu fokus dengan kisah cintanya, maka ia melupakan cita-citanya. Mungkin ada kasus, dimana kedua pasangan saling mendukung. Namun ketika salah satunya jatuh, maka yang satunya akan berkata, “Aku rela melepaskan mimpiku hanya untuk bersamamu.” Tsssahh…
Kemudian yang kedua, kemandirian, ketika si jomblo harus makan menggunakan tangan sendiri. Yang punya pasangan dengan alay-nya menggunakan tangan pasangannya. Huh, norak sekali. Aku benci! Yang ketiga, kejorokan, seperti ketika di bus si jomblo mencoba untuk menahan muntah, yang punya pacar malah sengaja muntah agar diperhatikan. Tapi kalau yang ini, sepertinya aku hanya mengarang. Dan masih banyak contoh lainnya.

Bersyukurlah kamu yang belum pernah berpacaran, itu artinya hatimu masih utuh untuk Allah. Dan sebenarnya jodohmu di dunia pun hanyalah fana, yang nantinya akan dipisahkan. Aku percaya, jodoh ada di tangan Allah. Dan pasti akan diberikan padaku jika waktunya tepat. Aku tidak meminta banyak, yang penting jodohku, soleh, baik, tampan, keren, tinggi, tidak gemuk, rapih, tidak alay, tidak memalukan, ramah, murah senyum, bisa bercanda, setia, punya wibawa, kaya, terkenal, ya sudah itu saja. Amiin.
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar