(Ini adalah naskah artikelku yang gagal dalam Event Menulis "Curhat Jomblo Minta Jodoh" yang diadakan salah satu penerbit di Indonesia, Diva Press)
“Aku pengen punya
pacar!!”
Kata-kata itu lah yang
selalu muncul setiap aku menemukan atau memikirkan kejadian-kejadian tertentu.
Seperti contohnya, ketika suatu hari aku kelaparan dan mampir ke warung bakso, baru saja melangkahkan kaki melewati pintu, aku sudah dapat melihat pasangan-pasangan
yang duduk berduaan. Mereka makan berdua, mereka ngobrol berdua, mereka tertawa
berdua, mereka bercanda berdua, bahkan mereka mengatur waktu melahap bakso
berdua.
Yang cewek bilang
“Satu…Dua…Tiga…Happ!!!”
Yang cowok bilang
“Yeyy!!” dengan antusiasnya sambil jingkrak-jingkrak seperti anak balita dapat
balon.
Sedangkan aku??? Aku
hanya makan sendirian, duduk sendirian, bete sendirian. Tapi aku cukup bisa mengontrol
diri untuk tidak bicara sendirian, bahkan bercanda sendirian. Sebab, mereka
pasti akan berpikir aku gila.
Aku adalah gadis
berumur 21 tahun. Cukup dewasa, bukan? Tapi apakah ada orang yang menyangka
bahwa gadis seusiaku belum pernah berpacaran satu kali pun selama hidup? Aku
tahu, pasti sulit untuk dipercaya. Karna di era seperti ini, pacaran sangatlah
biasa, bahkan untuk anak-anak yang baru saja lulus dari Sekolah Dasar, dan itu
membuatku malu bukan main. Aku kalah dengan anak SD, ya Tuhan!
Kenyataan ini selalu
saja mengusikku. Menggangguku setiap saat. Apalagi disaat aku sedang memiliki
banyak waktu senggang. “Kenapa aku nggak punya pacar? Apa aku jelek? Kenapa aku
nggak laku-laku? Apa aku dikutuk?”
Bahkan aku pernah
bertanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa, “Dimana Kau telah menyembunyikan pacarku,
Ya Allah?”
Maka dari itu aku harus
selalu menyibukan diri, sibuk, sibuk, dan terus sibuk, walaupun hanya
menghitung semut-semut yang keluar dari sarangnya.
Aku selalu iri dengan
mereka-mereka yang mempunyai pacar. Ketika berangkat dan pulang kuliah, mereka
diantar-jemput pacar. Sedangkan aku? Sendirian. Paling pol, dengan Bapak atau
tukang ojek. Ketika punya tugas kuliah, mereka akan dibantu atau ditemani oleh
pacarnya. Sedangkan aku? Gupek sendirian. Dan ketika malam minggu, malam senin,
malam, selasa, atau malam-malam apa saja, mereka akan menghabiskan waktu
jalan-jalan berdua. Sedangkan aku? Aku harus pura-pura sekarat dan menyembunyikan
diri di dalam laci meja belajarku.
Ada saat-saat
menyebalkan yang kulalui bersama teman-temanku. Yang pertama, momen disaat kami
berkumpul. Mereka pasti akan selalu ngotot untuk saling membicarakan kelebihan
dan kekurangan pacar masing-masing. Dan aku harus mengalah menjadi pendengar
yang setia tanpa cerita. Miris.
Yang kedua, lebih miris
lagi, saat aku sedang berkumpul bersama teman-temanku, sebut saja A, B, C, D.
Sedang asik-asiknya kami ngobrol, tiba-tiba si A dapat telefon dari pacarnya.
Tinggal ber-empat. Dan menyusul si B dapat video call dari pacarnya juga. Tinggal
ber-tiga. Belum selesai menggosipi A dan B, si C sudah sibuk mengetik sms untuk
pacarnya. Sedangkan si D, kemudian disusul oleh pacaranya. Akhirnya, tinggal
aku sendirian. Diam berjuta-juta kata. Sibuk menjadi penonton, sebelum akhirnya
aku salto ke kamar mandi kemudian memasukan diri ke bak mandi. Tragis.
Dan yang lebih tragis lagi,
momen ketiga, dimana ada kejadian aku ngumpul bersama teman-temanku yang sedang
dalam proses pedekate-an atau mendekati pacaran. Awalnya mengikutsertakan aku
dalam perbincangan, namun lama-kelamaan mereka jadi sibuk sendiri-sendiri. Si A
dan B, terbawa suasana berdua, seolah dunia hanya milik mereka saja.
Mengacuhkanku. Bisik-bisikan. Kemudian saling menatap. Diam. Setelah itu
tertawa. Berbeda lagi dengan si C dan si D, mereka lebih suka bercanda dan
saling menghina.
Si C bilang, “Kamu
bego.”
Si D balas, “Kamu yang
bego.”
Kemudian mereka
tertawa. Cekikikan seperti mak lampir dengan ritme yang sama. Hehehe. Sedangkan
aku? Lagi-lagi aku harus membuat tembok berbicara padaku.
Aku pernah mencurahkan
isi hatiku dengan penuh kedramatisan pada beberapa sahabat. Mereka pun selalu
mengatakan dengan inti yang sama,
“Kalo bisa pertahanin.
Pacaran itu sebenernya nggak ada manfaatnya juga. Cuma mendatangkan zina.
Pacaran juga bikin kecanduan. Kalo kamu udah putus, kamu bakal cari yang baru.
Putus lagi, cari lagi. Begitu seterusnya. Nanti malah kamu dibilang playgirl
atau perempuan nggak bener.”
Ya. Aku mencoba
menerima pidato mereka. Tapi kenapa? Mereka tau itu salah, tapi kenapa mereka
masih tetap berpacaran? Kenapa? Kenapa, Ya Allah??
Tapi, jika
dipikir-pikir ada benarnya juga. Untuk apa kita pacaran? Bahkan kita hanya
diwajibkan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Jika kita selidiki lebih dalam, ada
banyak kerugian yang menimpa orang-orang yang berpacaran. Yang pertama
cita-cita terputus, karna terlalu fokus dengan kisah cintanya, maka ia
melupakan cita-citanya. Mungkin ada kasus, dimana kedua pasangan saling
mendukung. Namun ketika salah satunya jatuh, maka yang satunya akan berkata,
“Aku rela melepaskan mimpiku hanya untuk bersamamu.” Tsssahh…
Kemudian yang kedua, kemandirian,
ketika si jomblo harus makan menggunakan tangan sendiri. Yang punya pasangan
dengan alay-nya menggunakan tangan pasangannya. Huh, norak sekali. Aku benci!
Yang ketiga, kejorokan, seperti ketika di bus si jomblo mencoba untuk menahan
muntah, yang punya pacar malah sengaja muntah agar diperhatikan. Tapi kalau
yang ini, sepertinya aku hanya mengarang. Dan masih banyak contoh lainnya.
Bersyukurlah kamu yang
belum pernah berpacaran, itu artinya hatimu masih utuh untuk Allah. Dan
sebenarnya jodohmu di dunia pun hanyalah fana, yang nantinya akan dipisahkan.
Aku percaya, jodoh ada di tangan Allah. Dan pasti akan diberikan padaku jika
waktunya tepat. Aku tidak meminta banyak, yang penting jodohku, soleh, baik, tampan,
keren, tinggi, tidak gemuk, rapih, tidak alay, tidak memalukan, ramah, murah
senyum, bisa bercanda, setia, punya wibawa, kaya, terkenal, ya sudah itu saja.
Amiin.