Senin, 06 Januari 2014

Selamat Tinggal Teman ('10)

“Oh, masih idup ya?”
Aku pernah ditanya seperti itu ketika aku baru saja tiba dan mencopot sepatuku. Sebenarnya itu hanya kalimat candaan, namun aku terlalu sensitive untuk mengartikannya. Aku pikir kakak itu bermaksud menyindirku lantaran aku yang jarang muncul ke “tempat itu” lagi. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Aku pikir aku punya mimpi yang harus dikejar sekarang, selagi ada kesempatan, aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Aku takut akan tiba saat habis masa hidupku dan aku belum melakukan apapun untuk mimpiku. Aku pun menjadi tak tau malu. Pergi seenaknya, datang semaunya.

Dan baru-baru ini temanku pun merasa terganggu dengan sikapku. Dia bertanya,
“Memiliki itu bertahan atau menjaga?”
“Cinta itu dari akal atau dari hati?”
Dari dua pertanyaan itulah, akhirnya aku sadar. Selama ini aku memiliki “tempat itu” dengan bertahan, bukan menjaga. Aku bertahan di belakang mereka yang selalu menjaga dengan cinta yang tulus dari hati. Sementara aku hanyalah pecundang yang memanfaatkan mereka untuk tetap memiliki “tempat itu”.
Aku seharusnya malu untuk mengatakan aku mencintai “tempat itu”.
Aku rasa yang terbaik untuk kulakukan saat ini adalah, meninggalkan “tempat itu”. Tidak mungkin lagi bagiku untuk tetap di “tempat itu”. Aku terlalu malu. Jika aku tidak bisa menjaga, untuk apa aku memiliki?
Maaf, teman-teman. Aku meninggalkan kalian, karna aku tau diri. Aku tidak ingin menjadi kecoa di belakang kalian. Terimakasih untuk segalanya, untuk kesediaan kalian menjadi teman-teman di hidupku. Aku tidak memiliki teman lagi seperti kalian. Teman yang selalu membuatku tertawa, menangis, marah, rasa membela, kecewa, bete, dan sumber motivasiku. Kalian adalah saudara untukku. Kalian teman-teman terbaik di hidupku.
"Tempat itu" yang membuatku menjadi sahabat untuk kalian, dan mungkin "tempat itu" juga yang akan memisahkan jarakku dengan kalian. Aku sudah siap jika setelah ini kalian membenciku, atau tidak menghiraukanku. Dan aku juga siap untuk menjadikan segalanya menjadi sebuah “kenangan”. 
Kenangan antara aku, kalian, dan “tempat itu”.
Terimakasih, teman. Selamat tinggal. :)

Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar