“Oh, masih idup ya?”
Aku pernah ditanya seperti itu ketika aku baru
saja tiba dan mencopot sepatuku. Sebenarnya itu hanya kalimat candaan, namun
aku terlalu sensitive untuk mengartikannya. Aku pikir kakak itu bermaksud
menyindirku lantaran aku yang jarang muncul ke “tempat itu” lagi. Aku terlalu
sibuk dengan duniaku sendiri. Aku pikir aku punya mimpi yang harus dikejar
sekarang, selagi ada kesempatan, aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Aku
takut akan tiba saat habis masa hidupku dan aku belum melakukan apapun untuk mimpiku. Aku pun
menjadi tak tau malu. Pergi seenaknya, datang semaunya.
Dan baru-baru ini temanku pun merasa terganggu
dengan sikapku. Dia bertanya,
“Memiliki itu bertahan atau menjaga?”
“Cinta itu dari akal atau dari hati?”
Dari dua pertanyaan itulah, akhirnya aku sadar.
Selama ini aku memiliki “tempat itu” dengan bertahan, bukan menjaga. Aku
bertahan di belakang mereka yang selalu menjaga dengan cinta yang tulus dari
hati. Sementara aku hanyalah pecundang yang memanfaatkan mereka untuk tetap
memiliki “tempat itu”.
Aku seharusnya malu untuk mengatakan aku
mencintai “tempat itu”.
Aku rasa yang terbaik untuk kulakukan saat ini
adalah, meninggalkan “tempat itu”. Tidak mungkin lagi bagiku untuk tetap di
“tempat itu”. Aku terlalu malu. Jika aku tidak bisa menjaga, untuk apa aku
memiliki?
Maaf, teman-teman. Aku meninggalkan kalian,
karna aku tau diri. Aku tidak ingin menjadi kecoa di belakang kalian.
Terimakasih untuk segalanya, untuk kesediaan kalian menjadi teman-teman di
hidupku. Aku tidak memiliki teman lagi seperti kalian. Teman yang selalu
membuatku tertawa, menangis, marah, rasa membela, kecewa, bete, dan sumber
motivasiku. Kalian adalah saudara untukku. Kalian teman-teman terbaik di
hidupku.
"Tempat itu" yang membuatku menjadi
sahabat untuk kalian, dan mungkin "tempat itu" juga yang akan
memisahkan jarakku dengan kalian. Aku sudah siap jika setelah ini kalian
membenciku, atau tidak menghiraukanku. Dan aku juga siap untuk menjadikan segalanya menjadi
sebuah “kenangan”.
Kenangan antara aku, kalian, dan “tempat itu”.
Terimakasih, teman. Selamat tinggal. :)