Rabu, 01 Januari 2014

Fobia Malam Tahun Baru


“Tahun baru mau ngapain?”
Itu adalah pertanyaan yang paling nge-bete-in sedunia. Pertanyaan yang benar-benar merugikan dan menjatuhkan martabat gue. Dari zaman peradaban kuno sampai zaman peradaban modern seperti sekarang ini, (buset? tua amat?) gue selalu merayakan malam tahun baru bersama keluarga (Seneng, dong? Bareng mamahhh dan papahhh), terus paling pol bareng anak-anak kampus (Nah, rame dong?). Seharusnya hal itu memang menyenangkan, tapi yang menjadi sumber masalah adalah setiap gue kumpul sama keluarga, bokap dan nyokap gue akan selalu menanyakan:
“Nggak sama pacar?”
Dan gue selalu akan hanya menjawab, “Enggak. Lagi sibuk mikirin tugas kuliah masing-masing.” Disambut dengan beberapa detik suara kekehan gue, kemudian gue diam dan merenung, “Ya, Allah… Kenapa gue jomblo?” Rengek gue dalam hati.
Itu adalah salah satu momen ekstrim yang sangat menjatuhkan martabat gue setiap pergantian tahun dengan pelecehan yang sama. Ada satu lagi momen ekstrim ketika gue kumpul bareng teman-teman kampus, dua tahun yang lalu, ini jauh lebih memuakan dibandingkan pertanyaan “Nggak sama pacar?”. Waktu itu, dari rumah, gue udah semangat banget membayangkan bakal kumpul bareng temen-temen, jarang-jarang kan. Gue yakin bakalan seru, rame, dan pastinya disana gue nggak kesepian lantaran semua temen gue berkumpul jadi satu. Gue mempersiapkan banget segala sesuatunya. Mulai dari mengaplikasikan lipstik tipis-tipis di bibir, bedakan dengan bedak hasil colongan di laci nyokap gue, semprot-semprot parfurm merk B&B Kid, kemudian senyam-senyum depan cermin sok manis gitu, sampe-sampe tikus datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru untuk menyaksikan kesintingan gue. 
Gue berangkat ke kampus yang terletak di Kabupaten Pringsewu dengan senang. Namun, setibanya gue di tempat perjanjian, baru saja meletakkan kaki, sesuatu yang sangat tidak terduga terjadi, dimana hampir semua temen-temen gue bawa pacar masing-masing. Mapas! Gue nggak bawa pacar!! Gue shock bukan kepalang, mata melotot, mulut menganga, bibir tumpah, hidung kembang kempis, dan gue tidak dapat berkata-kata.
“Ya Allah, kenapa gue jomblo?” Hanya keluhan itu yang terungkap di relung hati gue yang terdalam.
Lebih ekstrim lagi, ketika gue sempat bertahan beberapa jam bersama mereka demi melihat pertunjukan kembang api di taman kota Pringsewu, disini adalah lokasi teramai dalam pertunjukan pesta kembang api di kota ini, dan apa yang terjadi? Mereka semua tidak mengacuhkan gue, seolah-olah gue hanya kecoa yang ngebuntutin orang yang lagi pacaran, kemana-mana. Naas sekali. Dan dari kejadian itulah gue kapok, nggak lagi-lagi gue merayakan malam tahun baru bareng temen-temen kampus dan berakhir jadi kecoa. So, gue kembali lagi ke habitat semula, bersama keluarga.
Tepat saat ini, satu hari menjelang tahun baru, dan gue masih bertanya-tanya, “Ya Allah, kenapa gue masih aja jomblo?”. Tadi sore, gue menerima pesan singkat via handphone (baca: sms) dari salah satu teman se-kampus.
Pip
Gue buka inbox, kemudian gue baca.
“Malam tahun baru ada acara apa, temen-temen yang budiman?”
Huft. Sontak gue jengkel dan gue banting handphone ke tempat tidur. Kenapa nggak ke lantai? Jawabannya, karena takut handphone gue rusak. Tapi kemudian gue ambil lagi, kurang puas kalau belum membalas sms tersebut, “Mau jalan sama PACAR gue!!”. Seperti itu balasanku.
Entah kenapa, kesannya malam tahun baru malah jadi fobia tersendiri untuk gue. Jika semua orang menyambut dengan penuh kegembiraan, justru gue sangat trauma. Terlebih lagi, gue khawatir akan ada seseorang, bahkan beberapa orang, mencoba menanyakan pertanyaan ke gue seperti misalnya,
“Malam tahun baru kok nggak sama pacar?”
Terus gue harus jawab apa????!!!
Namun, dibalik itu semua gue masih mengharapkan sesuatu yang special dan berbeda pada malam tahun baru nanti malam. Jadi, gue masih berencana untuk melakukan sesuatu, menimbang-nimbang gue harus kemana. Haruskah kumpul bareng keluarga dan ditanya “Nggak sama pacar”? Atau kumpul bareng temen-temen sekampus gue dan berakhir dicuekin? Gue harus mengambil keputusan dengan serius, jangan sampai berakibat fatal dan mengancam masa depan gue, apalagi nyawa gue.
***
Akhirnya gue memutuskan untuk merayakan malam tahun baru kali ini bersama dengan teman-teman sekampus. Kini, gue sudah menunjukan batang hidung gue pada teman-teman sekampus.
“Hei!! Rai!!” Sambut mereka dengan hangat setibanya gue di base camp, tempat biasa kami nongkrong.
“Akhirnya Raisha datang juga!” Serbu Jeni yang dari kemarin berusaha memaksa gue untuk ikut bergabung.
“Kenapa lu jarang nongkrong sama kita-kita lagi? Sibuk apa lu?” Tanya Farhan yang baru saja mematikan motornya, baru saja tiba, karena menyadari gue baru-baru ini memang jarang nongol.
Gue hanya tersenyum.
“Ada angin segar apa?” Sambut Wita yang datang bersama Farhan, dia adalah pacarnya Farhan.
Lagi-lagi gue hanya tersenyum.
“Mungkin gara-gara Farel juga ikutan?” Sahut Andreas, teman sekelasku yang dekat dengan Farel, dia adalah pacarnya Jeni.
Gue baru saja akan melompat sambil mengatakan “masa?”, kalau saja Fikri tidak meneriaki dan menyiksa gue.
“Raishaaa!!!!~~” Seru Fikri dari belakang gue, sedangkan tangan kirinya sudah menggeplak pundak kiri gue dengan keras, sepertinya dia tidak bisa membedakan bagaimana menepuk pundak gadis lembut seperti gue dan bagaimana menepuk pundak preman pasar. Sedangkan pacarnya yang bernama Diana lagi-lagi cemberut gara-gara jealous. Dari dulu pacarnya Fikri memang cemburuan sekali dan tidak pernah akur dengan gue.
Gue sudah menyukai Farel sejak satu tahun yang lalu, saat gue dan dia semester 3. Dia adalah orang yang keren di mata semua warga kampus, begitu pula di mata gue. Namun sayang, di antara semua mahasiswi di kampus kami, hanya Diana pacarnya Fikri yang mampu memukau hatinya. Akhirnya, cinta gue bertepuk sebelah tangan. Dan saat ini, gue benar-benar nggak menyangka bahwa Farel juga ikut bergabung bersama kami. Jantung gue bisa meledak gara-gara saking senangnya bertemu dengan dia dan menyaksikan pertunjukan kembang api bersama dia.
Jam dinding sudah menunjukan pukul 9 malam, kami sudah selesai memanggang ayam di depan base camp dan siap menyantapnya. Namun, Farel belum juga datang. Sementara gue sudah semakin  tidak diacuhkan. Wita dan Farhan tengah asyik menikmati momen suap-suapan di dalam base camp, dari suap-suapan ayam bakar sampai suap-suapan arang, sekarang suap-suapan kertas. Beda lagi dengan Jeni dan Andreas, mereka lebih suka berduaan dengan mengelilingi kampus, entah sudah berapa puluh kali mereka mengelilinginya dari tadi, yang jelas mereka kurang kerjaan. Fikri dan Diana yang menemani gue daritadi di perapian, well, lebih tepat jika dikatakan hanya satu lokasi dengan gue, karna mereka lebih cenderung ngobrol berdua dengan topik pembicaraan yang gue tidak mengerti sama sekali. Kadang-kadang salah satunya sok ngambek-ngambekan, kadang-kadang mereka cekikikan kayak mak lampir, dan kadang-kadang mereka hanya diam sambil menatap mata masing-masing seperti orang kebelet pup. Pokoknya gue dan mereka seolah sedang di dunia yang berbeda. Sementara gue, meratap penuh kedukaan disini, sambil berharap tidak ada makhluk abstrak yang memergoki gue sendirian dan berakhir gue ditemenin makhluk abstrak di malam pergantian tahun ini. Amit-amit, deh. Dan inilah yang disebut “Kesepian ditengah keramaian”.
“Maaf, bro, gue telat!” Suara itu tiba-tiba muncul dari seorang laki-laki yang mengenakan kemeja merah kotak-kotak dengan garis putih, yang terkesan lebih seperti merayakan 17 agustus-an daripada malam pergantian tahun. Tapi tak apalah, karna orang yang mengenakannya adalah Farel, laki-laki idamanku, hal yang janggal itu tetap pas menurut gue. Malam ini ia memakai kacamata bingkai hitam, membuatnya makin menawan. Gue menatap keindahan itu lekat-lekat tanpa menggeserkan titik pandang gue sedikit pun, tidak ingin meninggalkan satu inci pun dari dirinya.
“Tega lu sama Raisha nungguin daritadi.” Ujar Fikri blak-blakan. Cresss!! Seketika rasanya seperti ia sedang mengiris wajah gue dengan samurai, benar-benar menjatuhkan martabat gue.
Sementara gue hanya mampu menyela, “Ih, sapa juga sih?”
“Padahal gue berharap lu nungguin gue, Rai.” Ungkap Farel, namun tatapannya tertuju ke mata Diana, seolah sedang men-transfer-kan sesuatu dengan arti mendalam. Sontak gue memanas, namun gue tahan dalam hati, mengingat gue masih harus menjaga image.
“Ehem.” Fikri yang menyadari gelagat Farel agak risih, kemudian mengajak Diana masuk ke base camp.
Tinggallah gue dan Farel. Sempat hening beberapa saat sebelum akhirnya gue menawarkan ayam bakar padanya.
“Mau?” Kata gue dengan suara yang agak bergetar, grogi.
Dia tidak menjawab, hanya tersenyum kemudian menghampiri dan duduk di pinggiran sederet dengan gue.
“Sendirian aja dong daritadi?” Tanyanya.
Aku tersenyum.
“Lu udah punya pacar belum, sih?” Tanyanya lagi sambil meniup ayam bakar.
Aku tersenyum lagi. Entah kenapa tiba-tiba gue jadi nggak punya keberanian untuk berbicara dengan dia.
“Apa sih yang lu suka dari gue, Rai?” Mapas!! Tiba-tiba dia bertanya hal yang sangat sensitive seperti itu.
“Karna gue suka sama lu.” Jawabku tanpa ragu-ragu.
“Yah… Gue kan cowok brengsek yang suka mainin perasaan, gue penjahat wanita.”
“Iya, sih.”
“Nah lho?”
Hehe. Aku tersenyum. Kemudian dia juga tersenyum. Akhirnya gue sama dia senyum-senyuman.
“Hoi, udah jam setengah sepuluh, nih! Ke Pendopo yuk, guys!” Pinta Andreas yang baru saja menyudahi perjalanannya mengelilingi kampus dengan Jeni. (*Pendopo adalah nama panggilan taman kota, bukan cuma orang aja yang punya nama panggilan)
“Yuk!” Seru Farel.
“Hei, bro! Kemana aja lu baru nongol?!” Sorak Andreas.
“Biasa, anak muda.”
“Ah, lagak lu, sob, sob…”
“Haha, ya udah ayuk langsung ke Pendopo aja. Kayaknya tadi udah rame banget pas gue lewat.” Kata Farel.
“Woy!! Keluar lu pada, yuk lanjut!” Seru Andreas pada orang-orang yang di dalam base camp. Mereka pun menyahut, “Oke!”
Kami berhamburan mengambil motor masing-masing yang hendak dipakai. Disinilah gue merasa ada pendeskriminasian, dimana temen-temen cewek gue diperlakukan seperti putri dengan diboncengi oleh masing-masing pacar, sedangkan gue harus menyetir motor gue sendiri. Kali ini gue bener-bener berharap, makhluk abstrak tidak menyadari jok motor gue yang kosong.
“Rai! Mau sampe kapan lu sendirian terus? Sini gih, lu sama gue!” Kata Farel padaku yang baru saja memutar motor. Sontak gue kaget dengan pernyataannya tadi, biasanya gue yang ngebet minta dibonceng dia, dan dia nggak pernah merespon, tapi kenapa tiba-tiba sekarang dia ngajakin gue? Dan gue bengong sesaat. Kemudian gue bergegas memasukan motor ke base camp dan menghampiri sang pujaan hati sambil senyum-senyum gaje.
“Malam ini, lu jadi pacar gue.” Katanya lagi ketika gue baru saja mendudukan pantat gue di jok motor matic-nya. Dan itu benar-benar membuat gue jantungan.
‘Ini beneran nggak, Ya Allah? Gue nggak salah denger, kan?’ Batinku.
Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di Tugu Bambu, taman kota atau Pendopo Pringsewu tidak jauh dari sini, tinggal sekitar 50 meter lagi. Namun jalanan yang macet, menghalangi perjalanan kami, memakan waktu yang cukup lama. Kami pun mau tidak mau harus rela mengantri. Kebanyakan antrian kendaraan ini menuju ke tujuan yang sama dengan kami, dan dengan maksud yang sama pula, melihat pertunjukan kembang api.
Ingat pertama kali gue bertemu dengan dia, satu tahun yang lalu ketika gue sedang menangis di pojok kelas kosong gara-gara cinta gue lagi-lagi ditolak, dia datang sambil menyapa gue.
“Hei…”
Gue menoleh dengan wajah yang sangat tidak enak dilihat, mata merah dan bengkak, bibir membesar, dan ingus kemana-mana. Kemudian dia duduk di samping gue.
“Kenapa lu mau sih cape-cape nangisin cowok yang biasa-biasa aja kayak dia?”
Gue masih diam sambil senggrak-senggruk.
“Dia lebih ganteng dari boyband korea?” Dia mulai membandingkan.
“Enggak. Tapi seenggaknya muka dia asli, bukan hasil operasi.” Gue mengelak.
“Dia lebih pinter dari Detective Conan?” Tanyanya tiba-tiba mengaitkannya dengan tokoh kartun kesukaan gue.
Gue memandang dia sebentar, “Jauh.”
“Dia lebih baik dari Naruto?” Dia bertanya seperti itu pula, karna gue juga ngefen dengan Naruto.
“Nggak ada lebihnya sedikit pun.”
Dia tersenyum sebentar, kemudian merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan permen lollipop dan diberikan ke gue.
“Gue bertaruh lu bakalan dapet cowok yang lebih segala-galanya dari dia.” Dia mengakhiri kalimatnya dan pergi meninggalkan gue yang masih terkesima atas aksinya memberi gue permen lollipop.
Gara-gara momen permen lollipop itulah, sampai sekarang gue suka sama Farel. Dan ketika dia menyadari tentang perasaan gue satu bulan setelah momen itu, dia benar-benar berubah 100%. Dia tidak pernah mau menyapa gue, walaupun kami papasan. Dia tidak mau balas senyum gue, ketika gue tersenyum lebar waktu papasan. Gue juga sempat memberanikan diri untuk minta diboncengin sama Farel sampai halte, tapi dia menolak dengan sangat ketus, “Gue ngasih lu permen lollipop, bukan berarti lu boleh ganggu hidup gue. Gue nggak suka sama lu, jadi lu mending jauh-jauh dari gue mulai sekarang!”. Itu kalimatnya ketika menolak boncengin gue, sakit banget. Sejak kejadian itu gue nggak pernah lagi deket-deket sama dia dan nggak pernah lagi menunjukan perasaan gue, walaupun gue masih tetap suka sama dia, cukup gue dan Tuhan aja yang tau.
Kembali ke waktu sekarang, gue sama teman-teman sudah berhasil melewati antrian kendaraan panjang. Kini kami sudah berada di lapangan taman kota. Suasananya memang benar-benar sangat ramai pengunjung, banyak pameran disana-sini. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang datang bersama pacar, dan ada juga yang datang bersama teman-teman.
Sejak memarkirkan motor tadi, Farel menggandeng tangan gue, belum pernah sekalipun melepasnya. Entah karna takut gue ngilang, atau karna sesuatu (?), yang jelas sekarang hati gue berdebar-debar karenanya.
“Kalian beneran pacaran?” Tanya Diana pada kami dengan tatapan yang tidak menyenangkan.
Dengan bangganya Farel menjawab sambil menunjukan tangan kami berdua yang terhubung, “Menurut lo gimana?”
“Ehm.” Fikri berdeham. “Wah, bagus dong, Rai… Akhirnya lu punya pacar juga!” Lanjutnya mengalihkan perhatian Diana dan Farel yang serius.
Sementara gue hanya tersipu.
Sambil menunggu pukul 12 malam, kami berkeliling melihat-lihat pameran dengan pasangan masing-masing. Gue rasa malam ini benar-benar berbeda dari tahun-tahun kemaren, dimana gue akhirnya nggak jomblo lagi, “Terimakasih, Ya Allah”. Sesuatu yang menyenangkan bisa berduaan dengan Farel, berdiri bareng, duduk bareng, ngobrol bareng, tertawa bareng, gue nggak akan melupakan malam pergantian tahun yang indah ini. Udaranya begitu dingin karna hujan tadi sore, Farel memberikan jaket biru navy nya untuk gue pakai, benar-benar romantic, kayak di film-film.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan tengah malam, 12.00 wib. Panitia penyelenggara pertunjukan kembang api pergantian tahun pun sudah siap-siap meletuskannya.
Dor!! Letusan pertama adalah kembang api berwana merah, menyusul letusan yang berwarna kuning dan hijau. Dor! Dor! Dor! Kali ini meletuskan 3 kembang api secara bersamaan. Kemudian meletuskan secara berentet. Percikan-percikan api nya membentuk pola-pola bunga yang menari-nari di langit. Memancarkan aura kemegahan di langit hitam berawan. Hingga yang paling besar meletus di ketinggian yang lebih tinggi dari lainnya, menggambarkan seolah bunga api tersebut adalah rajanya.
“Wah…” Hanya itu kata-kata gue untuk menggambarkan rasa kekaguman, gue sangat suka kembang api.
 “Gimana? Asyik, kan bisa liat kembang api dari deket?” Kata Jeni padaku.
“Asik banget!” Ungkapku.
“Tahun besok kita kudu gabung lagi buat merayakan malam pergantian tahun!”
“Harus!” Jawabku mantap.
“Cie!” Ungkap Andreas sambil memeluk Jeni dari belakang. “Yang bikin lebih asyik lagi, karna sekarang Raisha udah punya pasangan di malam pergantian tahun, cieee!!”
Gue tersenyum tersipu-sipu.
“Jangan sampe Farel direbut Diana, ya?” Kata Farhan kemudian yang sedang bersama Wita.
Gue tersenyum tesipu-sipu lagi. Farel yang sedang di samping gue, dan mendengar percakapan yang menyebut-nyebut nama dia, akhirnya bersuara.
“Aishh, ngomong apa lu, han!” Kata Farel.
“Jangan sampe lu ngejar-ngejar Diana lagi, Rel!” Farhan mengulangi.
“Berisik banget disini, nggak nyaman buat kita.” Ujar Farel pada gue, kemudian menggeret tangan gue menjauhi mereka.
“Nah, disini lebih nyaman!” Ungkap nya ketika sudah lumayan jauh dari mereka.
Gue tersenyum. Kemudian dia juga tersenyum. Akhirnya gue sama dia senyum-senyuman. Sumpah! Ini benar-benar momen yang canggung.
“Suka kembang api, ya?” Tanya Farel.
Gue mengangguk. “Suka banget banget banget…”
“Lebih suka gue apa suka kembang api?” Tanyanya.
Muka gue memerah seketika, “Suka sama lu.” Jawab gue lirih, dan gue biarkan angin malam ini menerpa helaian-helaian rambut gue.
Dia tersenyum. “Apa yang lu suka dari gue?”
“Kalo lu? Suka kembang api?” Gue mengalihkan pembicaraan, lantaran bingung akan menjawab apa.
“Apa yang lu suka dari gue? Apa yang special dari gue, sampe cewek se-istimewa lu sebegitu sukanya sama gue?”
“Lu suka kembang api, nggak?” Tanya gue lagi, yang akhirnya mengakibatkan pembicaraan kami tidak nyambung satu sama lain.
“Apa karna gue ganteng? Gue pinter? Gue keliatan keren? Apa karna gue terkenal di kampus?”
“Lu lebih suka kembang api apa gue?”
“Kenapa sih lu nggak mau jawab pertanyaan gue?” Tanyanya kemudian, disusul oleh kekehannya. Kemudian gue tersenyum.
“Gue pengen ngeledakin perasaan gue kayak kembang api itu.” Ujarnya tidak ingin memperpanjang masalah dan tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang sangat tidak nyambung.
Sementara gue hanya bengong menanggapi kalimatnya barusan. Apa dia marah? Atau bagaimana?
“Perasaan gue yang selama ini gue timbun, bener-bener sangat menyakitkan. Gue nggak bisa mengungkapkan perasaan gue dengan mudah, nggak kayak lu. Rasanya gue pengen ngilangin perasaan ini untuk selamanya kayak kembang api itu, gue letusin kemudian hilang dalam sekejap. Supaya gue bisa hidup tenang.” Lanjutnya melankolis.
“Farel?” Gue memanggil namanya. Apa maksudnya bahwa selama ini dia suka sama gue, tapi dia nggak berani mengungkapkan? Jadi kita sama-sama suka? Ya ampun Farel, kenapa? Kenapa lu nggak bisa ngomong ke gue?
“Nggak ada salahnya kan lu coba ngungkapin perasaan lu?” Kata gue kemudian.
“Nggak semudah itu.” Jawabnya. “Cukup sampai disini.” Lanjutnya.
“Dicoba dulu, dong.” Gue memburu.
“Cukup sampai disini, lu suka sama gue.”
Deg—
“Ma, maksudnya Farel?” Tanya gue.
“Gue nggak mau nasib lu sama kayak gue. Mengharapkan cinta yang tidak pasti.”
“Farel…”
“Lu tau, kan? Selama ini gue suka sama Diana. Gue nggak bisa melupakan dia. Tapi, dia udah milik orang lain. Gue nggak bisa ngejar dia.”
Gue menyimak dalam pedih.
“Dan, yang gue mau Diana, bukan lu. Malam ini gue udah ngasih kesempatan buat lu ngerasain rasanya pacaran, jadi gue rasa itu cukup. Maaf.” Ungkapnya. Kemudian dia berlalu meninggalkan gue sendiri.
Dor!!! Letusan kembang api memecah bersamaan dengan air mata gue. Hancur, rasanya hancur berkeping-keping. Gue pikir malam pergantian tahun kali ini akan benar-benar berbeda, tapi malah justru lebih ekstrim dari yang sudah-sudah. Apa gue dtakdirkan untuk jomblo seumur hidup? Kenapa cinta gue selalu ditolak? Apa nggak ada cinta pun untuk gue? Dan apa gue juga ditakdirkan untuk tidak bisa menikmati malam pergantian tahun?
“Rai…” Panggil Jeni lirih yang barusan memergoki pernyataan Farel padaku. Kemudian Fikri dan Diana menyusul.
“Hei, Rai! Lu kenapa nangis?” Tanya Fikri panik.
“Ssst…” Andreas mendiamkan Fikri untuk tidak menanyakan apapun pada gue saat ini.
“Pasti Farel ngomong sesuatu sama Raisha.” Tebak Diana.
Fikri yang memang pada dasarnya perhatian sama teman-temannya, menghadapkan gue padanya. Fikri mengangkat wajah gue yang penuh dengan air mata, dan menatap mataku tajam-tajam.
“Bilang kenapa, Rai!” Sontak Fikri. “Kalo bener gara-gara Farel, ngomong sama gue!!”
“Buat apa, Fik? Pasti ini tentang perasaan. Kalo Farel memang suka sama orang lain, itu nggak akan merubah apapun. Apa lu mau Farel jadi pacar Raisha, tapi terpaksa?” Ujar Diana.
“Diana!!” Pekik Fikri berusaha mendiamkan Diana.
“Lu juga, dong Rai. Kalo Farel emang nggak suka sama lu, nggak usah ngejar-ngejar dia! Kayak cewek nggak punya harga diri tau, nggak!!” Lanjut Diana.
“Diana!!!” Kali ini Fikri benar-benar murka dan lekas menggeret Diana untuk menjauh dari gue.
Entah apa yang akan terjadi dengan mereka berdua, gue nggak peduli. Gue bergegas pulang ke rumah. Gue pulang dengan perasaan penuh kehancuran, wajah nanar, langkah terseret-seret, mulut pun tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Bokap sempat geger dan menanyakan kenapa? dan kenapa?, belum lagi nyokap gue yang panik sambil menunjukan ekspresi yang tidak wajar, namun gue tetap tidak menjawab dan langsung masuk ke kamar. Gue memutuskan malam ini, adalah malam terakhir gue merayakan malam pergantian tahun. Gue trauma. Dan malam ini juga gue memutuskan untuk tidak lagi mencintai seseorang. Sudah cukup, gue menghancurkan perasaan gue sendiri. Kalau memang Tuhan memberikan gue jodoh, pasti jodoh itu akan datang dengan sendirinya. Gue nggak akan ngejar-ngejar siapapun lagi, meskipun dia ganteng, meskipun dia baik, meskipun dia good muslim, meskipun dia pintar, meskipun dia cool, meskipun dia kaya, meskipun dia mirip Logan Lerman, gue nggak akan sekalipun mempermalukan diri gue lagi. Karna gue akan mencari yang mirip Skandar Keynes! (Lho?)


--The End--
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar